Part 4

They are So Good!

 


“Haruka,” panggil sebuah suara yang dalam dan penuh ketenangan. Wanita yang merasa namanya dipanggil langsung mengibaskan manik hitamnya ke arah sumber suara yang sebelumnya berucap.

 

“Tidak sopan...” terlihat gadis dengan rambut hitam berkilau itu mendesis menahan murka. “Tak sopan memanggilku seperti itu!”

 

 

Lelaki itu yang tak lain adalah Kaede; samurai pendamping Haruka, saat ini tengah memandang Haruka sambil menopang dagu. Tersirat keangkuhan dalam dirinya walau kasta mereka sebenarnya berbeda. “Kenapa kau marah?”

 

 

Haruka menghentikan dialognya bersama seseorang yang berparas cantik lalu melengos pergi mendekati Kaede yang berada tak jauh dari tempatnya berimbuh jejak.

 

 

“Kau sudah bertindak tak sopan pada daimyo-mu!” cecar Haruka menghardik tegas, tak terima keberadaan dirinya direndahkan oleh manusia kurang ajar macam Kaede.

 

JJIIIITTTT...

 

 

“....”

 

 

Kaede tak melepaskan pandangannya kepada Haruka yang masih menandak kemarahan. “Daimyo?” Haruka tampak mengangkat sebelas alisnya, perasaannya tiba-tiba berlabuh pada suasana tak enak hati. “Hari ini kau adikku, ingat?”

 

 

DEG!

 

 

Haruka menelan ludahnya dengan susah payah. “Ck! Sial! Senjata makan tuan!” rutuk Haruka dalam hati. Ia kemudian mengokang tatapan dingin ke arah laki-laki yang masih memperhatikan tingkah lakunya dengan intens. “Baiklah, apa maumu nii-chan?” sembur Haruka dengan intonasi yang dibuat-buat.

 

 

Kaede tampak memandangi secarik kertas yang sedari tadi bertelut di antara jemari tangannya. Tangan kanannya ia tangkupnya sambil mengelus bibir lembutnya, sedangkan manik onyx itu tampak dengan serius menguntai beberapa baris kalimat yang tersemat sebagai intruksi singkat dari tuntutan perannya.

 

 

“Apa nii-chan?” Haruka melipat kedua lengannya di depan dada, lalu mengetuk-ngetukan telapak kakinya pada lantai kayu yang sedang berpeluh serpihan waktu.

 

 

“Aku...” suara Kaede perlahan terdengar, nyaris seperti bisikan. Namun Haruka yang memang sudah terlatih layaknya Samurai lain, bisa mendengar serentetan kalimat langka itu dengan teramat sangat jelas. “Aku...”

 

 

“Ya?” tampak Haruka mencondongkan tubuhnya; berusaha mendekat ke arah Kaede yang masih berucap dalam ragu.

 

 

“Aku tidak pernah melihat kabuki sebelumnya...”

 

 

“Eh?”

 

 

Bagai disihir pualam yang merengkuh gaungan sepi, Haruka berusaha setengah mati menahan tawanya yang hendak melesak keluar melewati bibir ranumnya. Namun dengan secepat kilat ia langsung membekap mulutnya dan menahan perutnya agar tak lekas menguar tawa tak pantas di khalayak ramai seperti ini.

 

 

PUKK!

 

 

Tangan kirinya menepuk bahu Kaede pelan, sedangkan tangan kanannya masih menahan perutnya yang dirasa sudah mulai sakit. “Nii-chan, kh, kau jangan membuatku tertawa seperti ini....

 

 

“....”

 

 

Kaede masih diam tak bergeming, memandangi majikannya yang sudah merangkak mendekati areal kesintingan. Ya, setidaknya, itulah yang sedang berada dalam pikirannya saat ini.

 

 

“Apa seaneh itu?”

 

 

“Kh, hahah, ie (tidak)” dengan sangat bersusah payah Haruka menghapus jentik air mata yang mulai menggenangi sudut matanya. “Aku juga belum pernah melihat kabuki, kok nii-chan....”

 

 

“....”

 

 

“Tapi setidaknya aku pernah membaca sejarah kabuki lewat beberapa buku sastra.” Ya, sepertinya Haruka mulai bisa membayangkan bagaimana tingkah Kaede dalam drama kabuki ini. Dan, bagaimana tampang Kaede ketika make-up menjarah wajah tampannya.

 

 

“....”

 

 

“Ada apa?” tanya seseorang yang sebelumnya bercakap-cakap dengan Haruka. Langkahnya mengaral mendekati dua insan yang sedang bertukar kata.

 

 

“Ah, Maki-san...”

 

 

“Ada masalah?” tanya seorang berparas cantik yang dipanggil dengan nama Maki itu.

 

 

Nii-chan-ku belum terlalu mengerti tentang Kabuki....

 

 

Maki tampak menikung senyum ramah, lalu memandang Kaede intens. “Namaku Maki, aku berperan sebagai Kasunagi no Kimi; istrimu dalam drama kabuki yang akan kita mainkan.”

 

 

“Hn.”

 

 

“Karena sebuah insiden yang mengancam nyawaku, aku dilarikan ke luar istana dengan pengawalan penuh dari Akechi Mitsuhide—samurai kepercayaanmu. Kau berperan sebagai Kaisar Gemmei yang keras dan tegas. Selama pelarian, aku ternyata jatuh cinta pada Akechi Mitsuhide yang diperankan Haruka. Belakangan kau mengetahui perselingkuhan kami dan berniat membunuh Akechi dengan tanganmu sendiri, di sanalah kalian bertarung untuk membuktikan siapa yang lebih berhak atas diriku.”

 

 

“....” Kaede tampak berpikir hingga akhirnya mulutnya berucap juga, “hn.”

 

 

“Eh, tunggu dulu Maki-san,” Haruka menginterupsi percakapan antara dua orang yang berada di depannya.

 

 

“Ya?”

 

 

“Sejarahnya tidak seperti itu... bukankah drama ini adalah jidaimono?”

 

 

“Ya, tapi penonton tidak ingin hanya melihat peperangan dan aksi saling menghunuskan pedang saja,terang Maki dengan wajah tenangnya. “Mayoritas penonton Kabuki adalah perempuan, dan perempuan biasanya senang akan cerita-cerita romantisme masa lalu.”

 

 

“Eeee?”

 

 

Terseling di antara penjelasannya yang dirundung kesabaran, Maki menawarkan sebuah senyum perdamaian yang membuat siapapun tak rela lepas dari tatapannya yang menawan sosok itu.

 

 

“Karena dua tokoh utama kita tidak memungkinkan untuk melanjutkan drama ini, jadi kita akan lebih sering melakukan improvisasi,manik matanya berlabuh ke arah secarik kertas yang masih berada di dalam genggamannya. Tak lama, pandangannya kembali mengaral; berpelesir di antara Kaede dan Haruka. “Tenang saja, kami akan membantu kalian di atas panggung, kalian hanya perlu menjaga drama ini supaya tidak keluar jalur.”

 

 

“Hai! Maki-san!” ucap Haruka mantap sambil menganggukkan kepalanya. Ini adalah pengalaman pertamanya bermain Kabuki. Dan tak dinyana… ternyata menyenangkan sekali!

 

 

 

#####

 

 

 

“Jika diri ini tak bisa merengkuh sosokmu lagi, maka aku adalah sebuah tubuh yang sudah kehilangan jiwa. Di mana jiwaku mengelana mencari kepingan petunjuk yang dapat membawaku ke hadapanmu.”

 

 

Hime-sama...” Haruka yang sedang memerankan seorang samurai terkuat bernama Akechi Mitsuhide itu merengkuh Maki yang sedang memerankan Kusanagi no Kimi yang lengkap dalam balutan kimono merah marunnya.

 

 

“Aku tak sanggup lagi hidup dalam kerangkeng istana, di mana setiap gerakku adalah buaian dari perintah pasti. Tubuhku bergerak implisit dalam tabir ambigu senja, di mana mataku, tak bisa berbinar jelas ketika melihat mentari pagi mengais sisi kanopi kamarku.”

 

 

Haruka begitu terenyuh dalam buaian tuturan kalimat indah yang dilantunkan Maki—Kusanagi no Kimi yang sekarang sedang bersandar dalam pelukannya yang hangat. Riasan wajahnya yang mencolok tak kuasa menyembunyikan kecantikan abadi di balik riasan itu. Maki sangat cantik, teramat sangat cantik. Dia adalah wanita tercantik yang pernah dilihat Haruka.

 

 

“Aku terlalu hina, Hime-sama. Aku, tak pantas untukmu...” Haruka mulai melancarkan kata-kata yang secara spontan menyeruak dan menyelesak memenuhi pikirannya; meminta gauran tirai untuk segera menyibakkan tangkup derai pilu.

 

 

“Aku adalah seorang hamba, yang disumpah untuk setia pada junjunganku. Darah korban mengalir deras mencumbui pedangku, wajah korban yang kubunuh berkelebat dan menjelma menjadi sosok mengerikan di setiap mimpi burukku,” Haruka merendahkan nada suaranya ketika berucap curahan hatinya itu, berusaha menyesapi perannya, berusaha menjadi seorang Akechi Mitsuhide yang memendam rasa cinta terdalam dalam hidupnya. “Aku, orang yang hina, Hime-sama... tak pantas menggenggam tanganmu.”

 

 

SREETTT....

 

 

Tampak Maki menyentuh dada Haruka perlahan yang sontak membuat Haruka sedikit terkejut. Terlihat, Maki yang saat itu berperan sebagai Kusanagi no Kimi mengelus-elus dada Akechi lembut, sekedar memberikan transfer ketenangan pada seorang Akechi Mitsuhide.

 

 

“Jangan mengutuk dirimu sendiri….”

 

 

DEG!

 

 

Kaede yang sedari tadi menonton di sisi panggung; menunggu giliran tampil entah kenapa terkesiap oleh sederet ucapan yang dilontarkan Maki.

 

 

“Jangan mengutuk dirimu sendiri, Tuan...” Maki terlihat kembali mengulang ucapannya. “Bagaimanapun, kau adalah lelaki yang kucinta, lelaki yang kudamba, dan lelaki yang kuharapkan,” Maki tampak menenggelamkan kepalanya di dada Haruka, lalu menikmati gelaran pertunjukan malam sambil menyelami cahaya rembulan yang bersinar indah memamerkan kemilaunya yang keperakan. “Kau adalah hatiku, Akechi-san... jika kau merendahkan dirimu lagi, maka hatiku akan tertoreh luka olehmu.”

 

 

Hi-Hime-sama....”

 

 

Maki kemudian menggerakan tangan putih mulusnya ke arah dagu Haruka, Haruka yang menangkap maksud Maki memandang mesra putri yang berada dalam pelukannya. Dengan lembut, Maki menyentuh pipi Haruka, lalu menariknya semakin dekat dengan wajahnya. Haruka tak berontak, dia secara perlahan mendekatkan wajahnya menuju wajah Maki. “Berciuman dengan seorang wanita? Tidak masalah, ini adalah tuntutan peran...” kilah Haruka dalam hati.

 

 

DEG! DEG! DEG!

 

 

Para penonton; terutama penonton perempuan yang sangat mengharapkan terjadinya kecupan itu menahan napasnya berat dengan kedua tangan yang meremas kimono mereka gemas.

 

 

“Ayo lakukan... ayo lakukan...” batin Sora tak sabar melihat pertunjukan itu.

 

 

DRAP!

 

DRAP!

 

DRAP!

 

 

“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” seorang pria dengan pakaian yang sangat mewah dan riasan wajah bengis muncul di belakang mereka yang sedang memadu kasih; menginterupsi kegiatan kedua sejoli yang sedang melukis suasana mesra. Dengan perasaan kalut, mereka berdua melabuhkan pandangan ke arah lelaki yang sudah familiar di mata mereka; kaisar Gemmei.

 

 

“Ya, Yang mulia...” Maki berucap param dalam keterkejutannya. Sekilas ia menatap Akechi dalam ketakutan.

 

 

“Maafkan Hime-sama Yang mulia, tolong jangan sakiti dia...” Haruka memohon dengan bersimpuh di hadapan kaisar Gemmei; Kaede.

 

 

“Tuan...” Maki yang melihat perbuatan Haruka segera duduk di sampingnya yang tengah bersipuh, ia mendekap erat lengan Haruka sebagai penyelaras ketakutannya.

 

 

“Yang mulia, hamba mohon….”

 

 

SSRRREEETTT!

 

 

“E-ee?” Haruka mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk ketika mendengar suara pedang yang telah menyalak, keluar dari sarungnya. “Ya-yang, mulia....”

 

 

“Aku akan membunuh kalian berdua.”

 

 

DEG!

 

 

Para penonton tampak menahan jeritanya. Entah kenapa, adegan yang tengah dimainkan para pemain sandiwara ini tampak begitu nyata. Di mulai dari Kusanagi no Kimi yang hidup dalam kenaifan dan harapan luhurnya yang terkungkung dalam terali emas. Akechi Mitsuhide yang menghadapi pergolakan batin antara junjungan yang sangat dihormatinya; kaisar Gemmei dan wanita yang teramat dicintainya; Kusanagi no Kimi. Lalu karakter lain yang tak kalah mengagumkan seolah menyihir penonton hingga berkali-kali harus bergidik ngeri dalam ketakutannya adalah kaisar Gemmei, yang diperankan oleh Kaede.

 

 

“Ya... Yang mulia….”

 

 

“Angkat pedangmu,perintahnya pelan, lebih menyerupai sebuah bisikan ditengah pedang yang ia hunuskan ke arah mereka berdua.

 

 

“Yang mulia....” Akechi Mitsuhide masih berucap ragu, tak sanggup jikalau harus melawan majikan yang sangat dihormatinya itu.

 

 

“Bangun, dan hunuskan pedangmu,” Kaisar Gemmei kembali berucap memunculkan intruksi. Suaranya dalam dan kelam, seolah menyimpan kepedihan yang teramat sangat atas pengkhianatan yang dialaminya.

 

 

“Tuan...” Kusanagi no Kimi memandang Akechi dengan raut wajah khawatir. Air mukanya tak henti memancarkan ketidaksetujuan pertarungan ini.

 

 

“Jika kau menang,” kaisar Gemmei terdengar melontarkan kalimat penawaran. “Jika kau menang, aku akan membiarkan Kusanagi-san tetap hidup dan tetap melayaniku sebagai permaisuri.” Kusanagi no Kimi tersentak mendengar penuturan kaisar Gemmei. “Tetapi, jika kau kalah...” kaisar Gemmei terlihat memandangi Haruka dengan raut muka dinginnya, awan hitam berarak merungkupi sosok kaisar Gemmei, mendukung setiap kata yang ia lontarkan pada lawan menyedihkan di depannya. “Maka kalian berdua akan berakhir di tanganku....

 

 

DEG!

 

 

Seolah seorang iblis yang mengucapkan sederet kalimat sarat makna itu, seluruh penonton yang menonton drama kabuki seketika merinding ketakutan. Para kru dan pemain lain yang berada di balik layar juga dihinggapi rasa takut dan sesak ketika Kaede mengucapkan dialog itu. Padahal dialog itu adalah dialog yang biasanya diucapkan Kurokawa dalam setiap perannya sebagai kaisar Gemmei, tetapi, ketika Kaede yang mengucapkannya, kenapa kaisar Gemmei yang asli seolah kembali hidup dalam diri Kaede?

 

 

“Sial, dimana kau menemukan mereka Kenta?” tanya seorang wanita muda dengan pakaian eksentrik mendorong kepala Kenta yang masih melongo melihat peran kedua teman barunya di atas panggung.

 

 

“Aish, onee-chan!” Kenta meringis sambil mengelus pucuk kepalanya yang barusan didorong oleh wanita itu. “Tidak sengaja nee-chan, akting mereka luar biasa ‘kan?” wanita itu hanya mengangguk sementara matanya masih sibuk mengamati kejadian yang selanjutnya akan terjadi.

 

 

“A-aku… ”

 

 

“Tuan…” Kusanagi no Kimi semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Akechi.

 

 

Hime-sama, tolong jangan khawatir… aku, pasti akan menang,” Akechi meradiasikan senyum keyakinan agar kekasih hatinya itu dirungkupi ketenangan.

 

 

“Menang atau kalah, aku akan tetap mencabut nyawamu.”

 

 

DEG!

 

 

Mata Kenta dan onee-chan-nya membulat, terkejut dengan ucapan yang dilontarkan sang Kaisar. Sedangkan penonton yang tak menyangka akan perkembangan cerita yang begitu menyakitkan itu tak sanggup berkedip memandangi guratan takdir yang dimainkan kembali oleh ketiga orang itu.

 

 

“Be-benar juga….”

 

 

“Apa yang benar, Hana-nee?” Kenta yang menangkap gelagat tak normal pada diri onee-chan nya; Hana, memandangi mimik mukanya yang berubah menjadi tak menentu itu.

 

 

“Seorang kaisar Gemmei, tak akan mengampuni Akechi Mitsuhide…” ucap Hana gemetar. Matanya tertuju pada beberapa helai naskah yang berada dalam genggamanannya. Di dalam naskah itu, tak tertulis dialog Kaisar Gemmei yang akan membunuh Akechi Mitsuhide jika Akechi meraih kemenangannya. Seharusnya, kaisar Gemmei mengampuni nyawa Akechi. Dan akhir cerita ini pun, berakhir dengan kemenangan Akechi. Seharusnya, Akechi dan Kusanagi no Kimi dibiarkan meniti hidup baru, itulah yang sudah terkonsep dari drama yang sudah berpuluh-puluh kali mereka mainkan.

 

 

“Benar…” Hana berbisik kembali, memecah keheningan yang merongrong di antara mereka. “Kaisar Gemmei yang asli begitu tegas dan keras. Jika ia berada dalam situasi ini, ia tak akan memberikan pengampunannya kepada Akechi Mitsuhide; kekasih gelap istrinya.”

 

 

“Ta, tapi nee-chan. Kaede sudah membawa drama kita keluar jalur…”

 

 

“Tidak,” terlihat Hana meremas helai kertas di tangannya kuat. “Perkembangan drama yang tak dikira ini, menarik sekali…” ia mengukir senyum semangat di sela kata-katanya.

 

 

“Ya, Yang mulia…” Maki berucap sarat kesedihan.

 

 

GLEK!

 

 

Terlihat Akechi menelan ludahnya dengan susah payah, sedangkan air mukanya yang tegas masih menghias wajah cantik yang menopenginya. “Wakarimashita (saya mengerti).”

 

 

“Tuan….”

 

 

“Saya mengerti, Yang mulia….”

 

 

SRREEEETTTT!

 

 

Akechi Mitsuhide beranjak dari duduknya. Perlahan, ia melepaskan sarung pedangnya, lalu melemparkan sarung pedang itu ke sembarang arah. “Hime-sama, kumohon… menepilah,” tanpa menatap Kusanagi no Kimi, Akechi Mitsuhide meminta kekasih hatinya itu beranjak menuju tempat yang aman.

 

 

“Tuan…” tak terasa, bulir air mata menetes menciumi petak tanah yang dipijaknya. Penonton merasakan sesak dan sakit yang luar biasa ketika dua anak manusia ini akan dipisah jeratan takdir.

 

 

Hime-sama,” panggil Akechi pelan, penuh kerinduan. “Saya tak akan kembali lagi, karena itu….”

 

 

“Cukup!” penonton tersentak mendengar jeritan sang Kusanagi no Kimi. “Yang mulia, hamba mohon…” dengan pandangan kalap Kusanagi no Kimi berlari menghambur ke hadapan kaisar Gemmei. “Ampunilah kami….”

 

 

Hi,Hime-sama…” Akechi tak sanggup menatap pemandangan menyakitkan itu. Ia tahu, ia tak pantas untuk hidup lagi. Samurai mana yang pantas hidup saat sadar ia mencintai istri junjungannya. Seharusnya ia melakukan Harakiri di hadapan kaisar Gemmei, tetapi kaisar yang dikenal dengan jiwa besarnya memandang Akechi sebagai saingannya, hingga menempatkan posisi Akechi dalam kasta yang setara dengannya sebagai lelaki. Akechi, harus bertanding dengan kaisar Gemmei untuk mempertahankan kehidupan Kusanagi no Kimi; kekasih hatinya.

 

 

Hime-sama, saya tak apa-apa. Ini adalah pertarungan kami, saya mohon, ikhlaskan lah….”

 

 

“Tuan….”

 

 

SRRRAAAKKK!

 

 

Walau saat ini Haruka sangat menikmati perannya sebagai seorang Samurai besar masa lalu; Akechi Mitsuhide, ia tak melupakan peranan aslinya yang satu lagi, yaitu sebagai semorang samurai laki-laki yang sudah malang melintang di semenanjung Fukushima, seorang samurai yang sudah pernah beradu pedang dengan laki-laki di depannya, ia tak melupakan jati dirinya sebagai Beru to Samurai.

 

 

Karena ia tahu Kaede adalah orang yang teramat sangat teliti, begitu detil dalam memperhatikan sesuatu, ia merubah gaya bertarungnya saat ini.

 

 

Ketika menjadi Beru to Samurai ia menghunus pedang hanya dengan tangan kanannya, kali ini ia menggunakan kedua tangannya dalam bertarung. Ketika sang Beru to Samurai memijakan kakinya dengan langkah ringan, bahkan tanpa jejak suara, ia sekarang memfokuskan berat tubuhnya hingga ketika kakinya mencecap tanah, akan keluar sebuah suara derap langkah yang konstan. Ya, sebisa mungkin, ia meredam keberadaan Beru to Samurai dari dalam dirinya dan memunculkan sosok Akechi Mitsuhide yang menenteng nama besar dalam kerendahan hatinya.

 

Mata mereka beradu, dalam kelamnya saduran pualam yang berdesau bersama dedaunan. Sebuah distorsi menyeruak menandak kemalangan, roda takdir kembali berputar, menyeruak dan menguar menyebar jenggala gaung yang menggamit kepingan kesedihan.

 

 

Sang Kusanagi no Kimi yang menjadi saksi pertarungan dua orang besar itu tak kuasa menahan keangkuhan sakit hati. Air matanya kembali melinangi pipinya yang pucat karena riasan.

 

 

DRAP!

 

 

Dalam satu hentakan kaki, Akechi maju menyerang junjungannya. Namun kaisar Gemmei yang melihat kedatangan Akechi bergeser menghindar. Serangan Akechi tak mengenai sasaran membuat otak Akechi kembali berimpulsi. Ia mengokang senjata dan menghunuskannya cepat ke depan sang Kaisar. Namun, kembali, sang Kaisar yang melihat serangan itu menghindar dengan sekali melompat ke belakang.

 

 

 

“DEJA VU”sebuah suara dalam relung hati Haruka membisikan sesuatu. “Kau bodoh Haruka, jika kau bertarung seperti ini terus, maka Kaede akan curiga. Bukankah gaya bertarung kalian saat ini sangat mirip ketika kau menjadi Beru to Samurai? Dia akan segera tahu, dan tamatlah riwayatmu.”

 

 

“Tidak!” Haruka berkilah di dalam dirinya sendiri, berusaha menepis dependesi esentrik yang menguasai hatinya. “Aku tak akan membiarkannya tahu….”

 

 

“Bagus, Haruka…”dirinya yang satu lagi menanggapi.

 

 

Dengan langkah mantap Akechi memutar tubuhnya; berusaha menyabet tubuh tuannya. Namun sebuah kejadian yang tak disangka-sangka terjadi, kaisar Gemmei dengan sekuat tenaga menangkis serangan Akechi, malah ia menyerang balik yang berimbas pada olengnya tubuh Akechi.

 

 

Entah apa yang sudah merasuki Kaede, bukannya membiarkan Haruka jatuh berdebum ke lantai, ia malah dengan sigap memegang pinggang Haruka dan memeluk tubuhnya erat, tak ingin ia terluka lebih lanjut.

 

“Apa yang kau lakukan?” bisik Haruka pelan di tengah posisi aneh itu. Penonton yang tak tahu menahu hanya diam membisu, berusaha menghayati kejadian yang tak lumrah itu dengan dada yang berdebar-debar.

 

 

“Ah,” Kaede akhirnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Walau pedangnya masih ia pegang kuat di tangan kanannya, namun tangan kirinya masih mendekap tubuh Haruka erat.

 

 

Baka!” hardik Haruka pelan namun jelas. “Kau harusnya membiarkan aku jatuh.”

 

 

“Hn,” Kaede yang mendengar intruksi dari Haruka langsung menjatuhkan Haruka.

 

 

BRRRUUUKKK!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suasana kembali diliputi kehengingan.

 

 

“Ka-Kaede…” ucap Haruka dengan nada yang bergetar.

 

 

“Hn?”

 

 

“Ke, kenapa….”

 

 

“Hn?”

 

 

“Kenapa kau juga ikutan jatuh bodoh!” Haruka memberi penekanan dalam setiap kata-katanya. Ia terlihat konyol sekali sekarang. Kenapa Kaede tidak membiarkan dirinya sendiri yang jatuh, kenapa dia juga harus ikutan jatuh dan menindih tubuh Haruka sekarang?

 

 

“Cepat bangun! Dan pura-puralah terluka oleh hunusan pedangku! Itu akan memberikan alasan bagus akan kejadian jatuhmu barusan.”

 

 

“Hn.”

 

 

Dengan langkah gontai, Kaede berdiri dari jatuhnya secara perlahan. Maki yang sadar akan perubahan situasi itu memekik tertahan melihat Akechi yang tak lagi berdiri.

 

 

“Tuan…” air mata kembali mengalir deras mencumbui pipi pucatnya. “Kenapa Yang mulia benar-benar membunuh Tuan Akechi….”

 

 

Kaisar Gemmei mendengus sesaat, lalu kembali memandang tubuh kaku yang terbaring di hadapannya dengan tatapan dingin. “Dia, pantas mendapatkannya….”

 

 

PROK!

 

PROK!

 

PROK!

 

PROK!

 

 

Suara tepuk tangan dan teriakan membahana membanjiri areal pertunjukan. Hampir semua pengunjung menyungging senyum sambil menyeka air matanya. Mereka berteriak “BAGUS! BANZAAAAAIIII!” dan beragam pujian yang lainnya.

 

 

 

#####

 

 

 

“Kalian hebat sekali, kenapa kalian tidak bergabung bersama kami di teater Kabuki,” tawar Kenta yang sebelumnya berperan sebagai tangan kanan kaisar Gemmei.

 

 

“Ah, arigatou Kenta-kun, tapi kami punya aktifitas lain…” tolak Haruka dengan halus.

 

 

“Benar, kalian punya taste yang bagus terhadap seni peran. Kalian aktor dan aktris yang berbakat!” puji Hana sedari tadi.

 

 

Domo arigatou gozaimasu (terima kasih banyak)” Haruka tak henti-hentinya menyuarakan senyum bahagia. Ini adalah pengalaman pertamanya yang sangat luar biasa! “Ah, hari sudah petang… kami berjanji untuk pulang ke rumah sesegera mungkin.”

 

 

“Hn, baiklah…” Hana kemudian merogoh sebuah kantung kain dari balik lilitan yukata-nya. “Ini tak cukup untuk menyampaikan rasa terima kasih kami untuk kalian, tapi… kami ingin sekali kalian menerimanya,” tawar Hana sambil menyodorkan kantung yang disinyalir tempat uang disimpan.

 

 

Iie (tidak), kami tak bisa menerimanya Hana-san.”

 

 

“Tapi—”

 

 

“Tolong pergunakan uang itu untuk pengobatan Kurokawa-san dan Amakura-san. Dengan terlukanya mereka berdua, kalian pasti repot sekali.”

 

 

Hana meretas senyum lembut, begitupun dengan Maki dan Kenta yang menemani mereka duduk di meja restoran yang sebelumnya menghadapi insiden tak dikehendaki mereka sebelumnya.

 

 

“Aku sangat kagum dengan Maki-san,” ucap Haruka sambil tak henti-hentinya memandang Maki dengan mata berbinar. “Sedari tadi Maki-san yang menuntun kami ke scene yang tepat. Walau improvisasi, kata-kata yang dikeluarkan Maki-san sangat indah dan sarat akan makna.”

 

 

“Hahaha…” tiba-tiba Kenta tertawa bangga. “Tentu saja, Maki-san sendiri yang menulis naskah drama kami, ia juga merangkap sebagai salah satu aktor kami.”

 

 

“EH?!” pekik Haruka tak percaya. Semburat wajah kekaguman semakin terlukis di wajahnya yang polos itu.

 

 

“Ya, dia laki-laki yang multi talenta.”

 

 

“Wah…” masih dengan kekagumannya, ia tersenyum memandangi Maki yang juga tersenyum ke arahnya. “Benar, Maki-san sungguh lelaki yang hebat.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“EEEEHHHHHH?” Haruka berteriak kencang sekali ketika sadar dengan ucapannya tentang Maki. “MAKI-SAN ITU LAKI-LAKI?!”

 

 

“Iya, memangnya kau sangka dia itu wanita, Haruka-chan?” tanya Hana dengan kedua tangan yang menutupi telinganya akibat teriakan Haruka yang keras itu.

 

 

“Ta-tapi…” Haruka kaget bukan main. Bibirnya berucap gagu, keringat dingin mulai menjalari permukaan kulitnya. Ingatannya kembali berlabuh pada permainan mereka sebelumnya. Ketika Maki berada dalam dekapannya, ketika Maki menyentuh dan mengusap dadanya, ketika Maki… hendak mencimnya….

 

 

BLUUUSSHHH!

 

 

Wajah Haruka seketika merona merah.

 

 

“Kalau kau sudah tahu itu dari awal ‘kan Kaede-san?” tanya Kenta dengan senyum ramahnya.

 

 

“Hn,” Kaede menjawab sambil mengangkat cawan teh di depannya.

 

 

Haruka yang mendengar jawaban Kaede langsung mendelik mengamati wajah Kaede yang disapu ketenangan. “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, NII-CHAN?” ia memberi penekanan yang kuat di kata terakhir yang diucapkannya.

 

 

“Hn.”

 

 

“GGrrrrr!” Haruka yang kesal dengan Kaede menggeram tak jelas, sedangkan Hana dan Kenta yang melihat tingkah mereka saling bertukar tawa.

 

 

“HARUKA!” teriak seorang wanita di pintu masuk restoran itu. Merasa namanya dipanggil, Haruka langsung menolehkan pandangannya ke arah sumber suara.

 

“Sora.”

 

 

DRAP!

 

DRAP!

 

DRAP!

 

 

Langkahnya terdengar jelas hingga menyedot perhatian para pengunjung restoran yang lain. Terlebih lagi penampilannya yang mewah memperlihatkan kejelasan kastanya dengan para pengunjung yang serba seadanya.

 

 

“Kau kemana saja? Kenapa tidak menonton drama Kabuki-nya? Padahal ceritanya seru sekali! Kau rugi tak menontonnya! Drama kabuki terbaik yang pernah aku saksikan!” ucap Sora menggebu-gebu menceritakan rasa kagumnya pada drama kabuki yang setengah jam lalu selesai digelar.

 

 

Hana dan Kenta yang mendengar penuturan Sora hanya terkikik kecil di baliknya. Tentu saja Sora—yang disinyalir adalah teman Haruka dan Kaede tidak tahu siapa yang sedari tadi beradu peran di atas pentas. Pertunjukan yang dipujinya saat ini adalah berkat akting mengagumkan dari Haruka dan Kaede. Tak heran jika Sora tak mengenali mereka, karena mereka berakting di balik riasan wajah yang sangat tebal.

 

 

“Hari sudah larut, kita harus segera pulang!” seru Sora setelah selesai menceritakan berjalannya drama tadi secara rinci. Tentu yang mendengar hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk mengerti.

 

 

“Kalau begitu, kami pulang dulu, Minna-san…” Hana, Kenta, dan Maki mengangguk mendengar izin Haruka yang akan pamit undur diri.

 

 

“Sekali lagi, terima kasih atas semuanya Haruka-chan, Kaede-san….”

 

 

“Um, kalian jaga diri kalian baik-baik ya…” ucap Haruka yang diakhiri lambaian tangan.

 

 

DRAP!

 

DRAP!

 

DRAP!

 

 

Keempat orang yang sudah berjalan menjauh dari hadapan mereka tak lagi menoleh untuk sekedar melepas kerinduan yang terpancang. Hanya tersisa Hana, Kenta dan Maki yang masih memandangi sosok yang akan segera hilang ditelan keramaian itu.

 

 

“Aku harap mereka berdua bisa hidup bahagia…” bisik Maki perlahan.

 

 

“Eh? Nani (apa)?” Kenta yang tak mengerti maksud Maki mengernyitkan alisnya.

 

 

“Ya, walau saat ini mereka belum menyadari perasaan mereka masing-masing, tapi aku harap mereka bisa dihampiri dewi kebahagiaan di masa depan nanti,” setelah berkata seperti itu, Maki melengos pergi meninggalkan Kenta yang masih terbengong-bengong tak mengerti dan Hana yang masih terbius akan sosok Haruka dan Kaede.

 

 

“Hehehe, adik-kakak ya? Tidak cocok,ah…” ucap Maki di sela senyumnya yang manis.

 

 

 

#####

 

 

 

“Oi, Kaede…” pangguil Haruka dengan suara rendah, tak ingin didengar Sora dan Yamato yang tengah berjalan di depan mereka.

 

 

“Hn?”

 

 

“Tadi kenapa kau ikut jatuh saat aku jatuh? Kau ingin menghancurkan drama itu apa?”

 

 

“…” Kaede tampak diam; berpikir. “Aku hanya tak ingin kepalamu terantuk di lantai.”

 

 

DEG!

 

 

Haruka terkesiap karena jawaban Kaede. Setelah diingat-ingat lagi, saat ia terjatuh ia memang tidak merasakan sakit sedikit pun. “TIDAK BOLEH! Ayo sadar Haruka… dia adalah orang yang sudah membuat tubuhmu babak belur…” ingat Haruka dalam hati.

 

 

Sedangkan Kaede yang saat itu berjalan di samping Haruka masih terbius akan kata-kata Maki dalam dialog drama tadi. “Jangan mengutuk, diri sendiri…” tanpa sadar, Kaede mengucapkannya dalam bisikan.

 

 

“Eh? Apa?” Haruka yang tersentak dari lamunannya karena kata-kata Kaede yang tidak jelas menanyakan perihal itu langsung kepada Kaede.

 

“Tidak, tidak apa-apa…” Kaede tampak menghentikan langkahnya, lalu menatap langit malam yang melingkupi seantero Fukushima.

 

 

“Kau ini sedang apa sih?” Haruka yang merasa aneh dengan tindak tanduk Kaede kembali menghampiri Kaede yang masih berdiri di tempatnya. Pikirannya masih tenggelam dalam seluk masa lalu yang kelam.

 

 

TAP!

 

 

Haruka menggapai lengan Kaede cepat. Kaede yang tersentak karena pegangan tangan Haruka menatap manik emerald itu intens. “Kita harus segera pulang ke rumah, nii-chan.…”

 

 

“Pulang.”

 

 

“Hn!” Haruka langsung membingkai senyum indah di wajahnya. Ia tak membuang waktu lagi, ia segera menarik Kaede agar kembali berjalan, bersebelahan dengannya.

 

 

Sampai di kediaman klan Akimoto, genggaman tangan yang saling bertaut itu, tak urung mereka lepaskan….

 

 

 

#####

 

 

 

Tengah malam, di klan Akimoto terbius oleh kehangatan pemandan