Kisah seorang anak yang ditindas ibu tirinya hanya ada di dongeng dan sinetron. Kisah klise itu tidak berlaku untukku.

 

 

 

                “Sayang, ini tante Gina. Mulai sekarang tante Gina yang akan menggantikan posisi Mama di hidup kita.” Papa memperkenalkan seorang kumuh dan kampungan. Apa aku tidak salah dengar? Mama? Dia lebih cocok menjadi pembantu di rumahku. Gadis itu terlihat masih cukup muda, umurnya kurasa tidak lebih dari 30 tahun. Dia terlihat lugu, tapi aku tahu dibalik keluguannya itu tersimpan hati yang busuk. Mana ada gadis semuda dan secantik dia mau menikahi seorang duda tua yang cacat kalau tidak ada udang dibalik batu?

 

                “Vitria, kamu sudah besar ya.” Gina tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia berusaha memelukku. Ihh.... sok kenal sok deket banget!!

 

                Aku langsung mendorongnya dengan keras. Gina terlihat sangat terkejut, begitu juga papa, “Vitria! Apa yang kamu lakukan?”

 

                “Wanita kampungan ini nggak akan pernah bisa gantiin mama!” aku berteriak dengan keras lalu berlari ke kamarku di lantai atas. Sampai di kamar aku menutup pintu dan menguncinya. Lalu kubenamkan wajahku di bantal. Kenapa papa tega melakukan ini? Mama baru setahun meninggal, tapi papa sudah membawa gadis lain ke rumah ini. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku akan membuat Gina sialan itu menyesal sudah masuk ke hidupku dan papa!

 

                Tok tok tok.... seseorang mengetuk pintu kamarku, “Sayang, ini papa. Papa mau bicara.”

 

                “Vitria nggak mau ngomong ma papa.”

 

                “Papa tahu ini berat untuk kamu, tapi papa melakukan ini untuk kamu. Papa mau kamu tumbuh normal seperti anak lain. Buka pintunya, Sayang.”

 

                “Nggak mau! Papa ngomong aja sama cewek sialan itu!”

 

                “Vitria! Jaga bicara kamu!”

 

                “Papa yang jaga kelakuan papa! Apa yang akan temen-temen Vitria bilang nanti kalau tau papa menikah lagi padahal mama baru saja meninggal? Kenapa, Pa? Kenapa papa ngelakuin ini?”

 

                “Buka dulu pintunya, kita bisa kan bicarain ini baik-baik.”

 

                “Nggak! Nggak ada yang perlu dibicarain lagi! Sampai kapanpun Vitria nggak akan nerima cewek itu sebagai pengganti mama!” aku memutar sebuah lagu hard rock di ponselku dan menyetel volume penuh sehingga aku tidak bisa mendengar suara papa. Aku kembali membenamkan wajahku di bantal dan menangis sesenggukan.

 

                “Mama, Vitria kangen Mama.”

 

                Aku masih ingat dengan jelas hari terakhir aku bertemu dengan mama. Hari itu papa dan mama berangkat ke Medan karena ada urusan bisnis. Aku mengantar mereka sampai di bandara. Tidak ada firasat apapun kalau hari itu mamaku akan pergi meninggalkanku selamanya. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Mama meninggal di tempat sedangkan papa mengalami luka parah. Kedua kakinya lumpuh permanen sehingga papa harus menggunakan kursi roda.

 

                Hidupku setelah kepergian mama berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi yang mencium keningku saat malam datang. Tidak ada yang membangunkanku saat pagi menjelang. Papa juga berubah, sering termenung di atas kursi rodanya. Makanya aku begitu terkejut ketika papa tiba-tiba datang bersama seorang gadis kampung dan memperkenalkannya sebagai calon pengganti mama. Wanita sialan, mata duitan!

 


 
0komik
182pengikut

Kamu mungkin suka