Prolog

 

Kota Greenhill itu adalah kota pelajar. Murid-muridnya terdiri dari 3 golongan. Golongan bawah, menengah, dan golongan atas. Tapi tak satu orang siswa pun yang memiliki wajah diatas rata-rata. Hal ini membuat para siswi malas untuk masuk ke kelas, padahal sebentar lagi ujian Negara.

 

Lalu pada suatu hari, seorang pangeran dari Republik Toran datang untuk berlibur. Para siswi kaget melihat orang setampan pangeran republik Toran tersebut. Dalam satu hari, kepopuleran sang pangeran tersebar luas ke seluruh kota Greenhill. Para siswi berlomba-lomba bangun pagi, membuat sarapan dan membawanya ke penginapan tempat pangeran itu menginap.

 

Pangeran itu bernama Sheena. Wajahnya memang jauh diatas rata-rata, tapi sifatnya yang suka main-main dan gampangan itu malah menyulut semangat para siswi untuk masuk sekolah. Ha… dasar perempuan. Tapi dengan itu, kota Greenhill sebagai pusat belajar kembali normal… alhamdulillah…

 

 ***** *****

 

Sudah lama Sheena nggak mampir ke Greenhill. Pagi-pagi sekali, ia naik perahu berangkat ke kota Greenhill. Awalnya Sheena nggak pernah absen mampir ke Greenhill, malah bisa dibilang sudah seperti tinggal disana. Ini dikarenakan ayahnya, presiden Lepant, pemimpin Republik Toran jatuh sakit. Jadi Sheena menggantikan ayahnya untuk memimpin negeri itu selama beberapa hari.

 

Sebelum memasuki kota Greenhill, Sheena berhenti sebentar. Ia memandangi wajahnya dari cermin, pakaiannya, pokoknya penampilannya sekarang, dari ujung rambut sampai ujung kaki. ‘Sip, sudah ok.’ Pikirnya dalam hati. Dengan mantap ia langkahkan kakinya memasuki kota Greenhill. Tengok kanan, tengok kiri, matanya sibuk mencari para penggemar setianya. ‘Oh, yes. Ketemu!’

 

Sheena buru-buru pasang wajah cool saat ingin melintas di depan para penggemarnya. Masih ingat, ia memang tipe orang yang suka main-main.

 

“Oh, Sheena…”

 

“Hey, itu Sheena, kan?”

 

“Sheena…!”

 

Secara bergerombol para gadis yang ada di tempat itu langsung mengelilingi Sheena, sampai Sheena tidak bisa melanjutkan perjalanannya lagi. Sebenarnya ini sedikit menyulitkan Sheena. Padahal Sheena ingin cepat-cepat merebahkan dirinya ke sofa. Perjalanan jauh yang baru ia tempuh sangat melelahkan baginya.

 

“Wa.. wajahmu berkeringat. Silahkan, pakai saja sapu tanganku.” Ucap salah seorang gadis lugu dengan gugup. Menurut Sheena, ciri-ciri gadis lugu itu berambut pendek dan pakaiannya dimasukkan.

 

“Thank you.” Ucap Sheena dengan ramah.

 

“Sheena, kenapa kamu jarang main kerumahku lagi?” Tanya seorang gadis berambut panjang dengan nada sedikit manja. Ia memang merasa kalau dirinyalah yang cocok untuk Sheena, dan sering bermanja-manja dengannya. Walaupun terkadang Sheena sedikit malas untuk meladeninya.

 

“Ayahku sakit, jadi selama beberapa hari ini aku menggantikan tugas ayahku.

 

“Oh, begitu…”

 

“Maaf, aku sedang buru-buru. Permisi…” Ucap Sheena halus. Para gadis itu mengeluh. Yah, tujuan Sheena kesini bukan untuk  menemui mereka. Ada hal lain yang dituju Sheena.

 

“Kak Sheena…?” Terdengar suara seorang gadis yang memanggil Sheena. Suaranya halus, berbeda dengan yang lain. Sheena menoleh. Ia mengenali wajah orang yang memanggilnya. Gadis itu bernama Nina, usianya 15 tahun. Nina adalah mantan pacar Sheena.

 

“Ah! Alice!” Seru Sheena dengan bersemangat. Dari wajah senang, wajah gadis yang memanggilnya langsung berubah menjadi kesal.

 

“Siapa yang kamu panggil Alice, hah??”

 

“Hahaha.. Maaf, maaf.. Tapi memang mirip, kan?Alice dari Alice in Wonderland…” Ejek Sheena. Sebenarnya tidak mirip, sih. Hanya saja memangjadi ciri khas Nina memakai pita diatas kepalanya, seperti Alice-nya Alice in Wonderland.

 

“Kak Sheena mau kemana?” Tanya Nina.

 

Sheena terdiam sebentar. Haruskah ia memberiatahu yang sebenarnya? Tentagng tujuan Sheena ke Greenhill. Tapi itu takut membuat Nina sedih. Nina memang mantan pacar Sheena, tapi Nina tetap orang penting bagi Sheena.

 

“… Aku ingin bertemu Shima. Lama tidak bertemu, rasanya kangen juga…” Akhirnya Sheena memberitahukannya. ‘Aaah.. Nina pasti sedih.’ Pikir Sheena dalam hati.

 

 
8komik
94pengikut

Other Stories