(Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam "Lomba Fiksi Fantasi 2012", yang diselenggarakan oleh Ninelights Production bekerjasama dengan nulisbuku.com [http://kurohime.multiply.com/journal/item/27/Lomba_Fiksi_Fantasi_2012_Wira_Sangga]. Sedang dibuat versi novelnya. Doakan yah~! ^___^)

 

WIRA SANGGA



          Mendung menggayut di langit, tanpa menitikkan air setetes pun. Cuaca yang pas untuk hati yang sedang galau. Begitu pikir Rian, sementara ia duduk-duduk di dekat seorang penjual gula-gula kapas. Mungkin memang seharusnya ia tidak datang ke tempat ini.
          Sekaten. Tradisi tahunan berupa pasar malam yang digelar di Alun-Alun Utara Keraton Solo. Puncaknya adalah ketika perangkat gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dibunyikan di pelataran Masjid Agung. Lima tahun lalu, Rian pernah ‘hilang’ di sini. Waktu itu usianya 14 tahun. Selang tiga bulan, ia kembali ke rumah. Tapi saat ditanya, ia tidak ingat apa yang telah terjadi.
          Hanya saja, ada satu hal yang aneh. Waktu itu, Rian terus menanyakan tentang ‘kakaknya’. Apakah dia baik-baik saja, dan apakah dia juga sudah pulang ke rumah. Tapi semua orang, termasuk kedua orangtuanya, malah mengatakan bahwa Rian anak tunggal! Sementara Rian yakin bahwa ia memiliki saudara kembar.
          Rian menghela napas. Setelah lima tahun melanjutkan sekolah dan kuliah di luar kota, baru sekarang ia kembali. Ke kota kelahirannya ini. Ke pasar malam ini. Melihat-lihat suasana pasar malam yang sama sekali tidak berubah dari yang terakhir diingatnya, semakin kuat perasaan bahwa ia memang telah melupakan sesuatu. Bahkan bayangan sosok sang ‘kakak’ yang diyakininya itu, semakin terkikis dari benaknya. Sampai Rian sendiri tidak tahu, sebenarnya kakaknya itu betul-betul ada atau tidak…?
          Meskipun begitu, Rian tetap merasakan seperti ada satu tempat kosong yang hampa dan menyesakkan di hatinya. Sakit.
          “Ian…,” tanpa sadar sebuah nama terucap dari bibir Rian. Dan ia tersentak sendiri. Ian? Siapa Ian? Tapi nama itu tidak asing…
          “Mencari Ian?”
          Sekali lagi Rian tersentak. Kali ini karena penjual gula-gula kapas di sampingnya tiba-tiba menanggapi ucapannya. Dan menyebut-nyebut nama Ian pula! Rian spontan menoleh. Penjual gula-gula kapas itu adalah pemuda tampan berbadan tegap, mungkin beberapa tahun lebih tua darinya. Wajahnya tampak bersahabat. Dan ia memakai ikat kepala dari kain batik berwarna dasar hitam…
          Rasanya Rian pernah bertemu dengan orang itu.
          “Kita ketemu lagi,” lanjut si penjual gula-gula kapas. “Aku Lando, si Penjaga Gerbang.”
          “Apa…?”
          “Kau benar-benar lupa, ya?” kali ini Lando melihat Rian lebih seksama, lalu tiba-tiba saja ia memegang lengan kanan Rian dan mengangkatnya sedikit. “Bahkan rajahnya juga ikut hilang…
          “Apa yang kaulakukan…?!
          Protes Rian terhenti tiba-tiba, demi menyadari bahwa Lando barusan menggunakan sebuah bahasa yang asing. Bukan bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, atau bahasa mana pun yang pernah diketahui Rian. Tapi entah bagaimana, Rian bisa memahaminya, bahkan tanpa sadar bicara dalam bahasa yang sama!
          “Oh, ternyata kau masih ingat bahasa kami!” Lando tampak antusias sekarang. “Mungkin ini tidak seburuk yang kukira…”
          Tepat pada saat itulah, sayup-sayup terdengar suara gamelan di kejauhan.
          “Baiklah! Akan kubuka gerbangnya sekarang!
          Semua terjadi begitu cepat, hingga Rian tak sempat berpikir. Tiba-tiba saja, Lando mengangkat tangan kanan lurus-lurus, mengarahkan telapaknya ke langit. Dari situ memancar cahaya lembut keemasan, yang lalu menyebar membentuk setengah kubah melingkupi mereka berdua. Melaluinya, samar-samar Rian melihat semua gerakan di luar kubah terhenti. Seolah-olah ada yang membekukan ruang dan waktu.
          Entah  dari mana sumbernya, mendadak Rian dan Lando sudah tenggelam dalam lautan cahaya keemasan. Begitu menyilaukan, sampai-sampai Rian tak sanggup membuka mata. Namun, lebih cepat dari satu helaan napas, tiba-tiba tercium bau rerumputan. Rian  membuka mata. Di depannya telah terhampar padang rumput luas, diselingi pepohonan dan bunga-bunga liar. Cuaca cerah. Rian memandang berkeliling… tapi ia sendirian!
          “Kau datang,” tiba-tiba Rian mendengar suara lembut perempuan dari arah belakang. Lagi-lagi bahasa itu.
          Rian berbalik. Di hadapannya kini berdiri seorang gadis muda. Cantik dan anggun, dalam balutan gaun putih dan sarung tangan berwarna sama. Gadis itu menggendong seekor cerpelai pada lengan kiri dan membawa payung putih di tangan kanan. Ada motif polkadot warna-warni pada payung itu. Sungguh pemandangan yang ganjil. Anehnya, Rian malah merasa familiar dengan sosok si gadis.
          “Siapa kau?” tanya Rian. “Mana Lando?”
          “Aku Meena,” gadis itu menjawab lugas. “Dan Lando… Dia ada di sini.”
          Rian melihat gadis bernama Meena itu sedikit mengangkat lengan kirinya yang menggendong cerpelai.
          “Kau mau bilang,” sahut Rian, “cerpelai itu…?”
          “Iya, ini memang aku.”
          Rian berani bersumpah, ia mendengar suara Lando tadi keluar dari mulut si cerpelai.
          “Aku manusia, kok. Ada alasan kenapa sekarang aku berwujud begini…,” Lando si cerpelai memutus ucapannya. “Sudahlah, sekarang bukan itu yang penting. Rian, kami harus membawamu ke suatu tempat.”
          Rian terdiam. Semua ini terlalu aneh! Tapi, yang lebih aneh adalah, ia merasa begitu mengenal tempat ini, juga Meena dan Lando.
          “Kita bicara sambil jalan saja, ya?” kata Meena.
          Merekapun berjalan berdampingan. Ke arah utara.
          “Kenapa kau harus ikut lupa juga, sih? Merepotkan,” kata Lando. “Yah, singkatnya begini… Di duniamu, ada teori tentang ‘dunia paralel’, ‘kan? Memang tidak persis, tapi kira-kira seperti itulah. Ini adalah ‘dunia lain’ yang berbeda dimensi dengan duniamu. Di sini, keseimbangan alam, energi, serta teknologi, masih terjaga dengan baik. Lalu, ada orang-orang yang  memiliki ‘kekuatan’ tertentu, yang berbeda pada tiap orang. Seperti aku yang punya kemampuan untuk ‘menghubungkan’ dunia kami dengan duniamu. Kalau di tempatmu, mungkin itu disebut ‘sihir’. Tapi di sini, itu sesuatu yang alami.”
          “Dunia yang menarik,” komentar Rian.
          “Duniamu juga,” sahut Lando. “Sudah sejak lama, leluhurku menjalin hubungan dengan tempat yang disebut Tanah Jawa. Di sana, ada para mpu yang ahli membuat benda-benda pusaka. Kadang, kami membantu ‘mengisikan kekuatan’ ke dalam pusaka-pusaka itu. Tapi dibandingkan kami, kalianlah yang lebih mampu menggunakannya secara maksimal. Karena itulah, sejak dulu, para ksatria dari duniamu terkadang kami mintai bantuan jika negeri kami dilanda masalah. Untuk berjuang bersama kami.”
          Lando memberi jeda.
          “Dahulu, pernah dibuat dua pusaka dengan kekuatan dahsyat, pada masa sebuah kerajaan yang bernama Majapahit. Nyaris tak ada yang mampu mengendalikannya, kecuali satu orang. Kemudian, ia menyegel kedua pusaka itu ke dalam dua buah rajah yang dia buat di tubuhnya sendiri. Di lengan kanannya, Rajah Wira Buana yang berisi sebuah senjata. Di lengan kirinya, Rajah Sangga Buana yang menyimpan sebuah perisai. Dan kedua rajah tersebut, diwariskan kepada keturunannya, sampai saat ini.”
          “Negeri kami sekarang ini dipimpin oleh raja yang lalim,” lanjut Meena. “Aku, Lando, dan orang-orang yang sudah muak dengan kekejamannya, bersatu untuk melawan. Tapi bagaimanapun juga, dia memiliki kekuatan yang tidak bisa kami tandingi.”
          “Karena itulah,” Lando menyambung, “lima tahun lalu, aku datang ke duniamu. Ke kotamu. Sengaja untuk mencarimu, dan kakakmu, Ian. Waktu itu aku juga berjualan gula-gula kapas di Sekaten. Di sanalah kita pertama kali bertemu.”
          Langkah Rian terhenti. Meena pun ikut berhenti dan berbalik, hanya selangkah di depan pemuda itu. Dilihatnya Rian mengalihkan pandang dengan  rahang mengeras. Tangannya pun sempat terkepal.
          “Rian… jangan-jangan kau… sudah ingat, ya?” tanya gadis itu.
          Rian tidak menjawab.
          “Kami tahu, dulu kau sudah memutuskan untuk pulang,” Meena berkata lagi. “Tapi, perjuangan kami selama lima tahun ini semakin sulit, bahkan setelah dibantu oleh Ian, sang pemilik Rajah Sangga Buana. Kami membutuhkanmu! Sebagai pewaris sah Rajah Wira Buana, yang berdiam di lengan kananmu itu…”
          “Cukup,” Rian menyela. “Jangan bicara lagi.”
          “Rian…”
          “Kalian mau membawaku menemuinya, ‘kan?” sekali lagi, Rian menyela ucapan Meena. “Ayo.”

          Tak lama, Rian sudah tiba di sebuah bukit. Di ujung bukit itu, ada sebuah pohon besar. Jika berdiri di dekatnya, maka akan terlihat pemandangan indah yang terhampar sampai ke lembah.
          Tapi yang menjadi perhatian Rian sekarang adalah seseorang yang sedang duduk di dahan pohon yang cukup rendah. Posisinya sekarang membelakangi Rian.
          Rian mendekat perlahan, sementara pemuda tadi sedang mendendangkan sebuah lagu.

          Mojopahit di mana semangatmu jaya
          Sriwijaya di mana pusakamu gaya
          Lama sudah tidurmu
          Tinggi sudah surya
          Terang sudah nyalamu…

          “Maju Indonesia, ciptaan C. Simanjuntak,” kata Rian, setelah berada cukup dekat. “Masih suka nyanyi itu?”
          Nyanyian si pemuda terputus. Ketika kemudian ia menoleh, tampaklah oleh Rian, seseorang yang dari perawakan dan wajahnya, bagai pinang dibelah dua dengan dirinya.
          Pemuda tadi cepat-cepat melompat turun.
          “Rian!”
          Dipeluk tiba-tiba, tentu saja Rian kaget. Tapi kemudian ekspresinya melembut. Ia pun balas memeluk pemuda itu.
          “Ian,” ucapnya, penuh kerinduan.

          Tiga hari kemudian, di bukit yang sama. Ian sedang berlatih beladiri. Di tangannya ada sebilah keris pusaka. Meena juga ada di situ, duduk di dahan pohon sambil menonton. Payung polkadotnya tergolek tertutup di kaki pohon itu.
          “Hebat!” komentar Meena ketika Ian menghentikan latihannya.
          “Masih butuh waktu sampai aku berhasil menguasai kekuatan senjata ini sepenuhnya,” kata Ian.
          Meena mengerling lengan kiri Ian. Di situ ada sebuah rajah yang nyaris menutupi seluruh lengan Ian. Itulah Rajah Sangga Buana. Warnanya putih. Bentuknya abstrak namun artistik. Bila memandangnya, Meena selalu membayangkan bentuk sebuah perisai.
          Yah, kalau rajah itu, Meena sudah sering melihatnya. Namun kini, di lengan kanan Ian pun ada satu rajah lagi. Rajah Wira Buana. Warnanya merah. Meena merasa melihat bentuk tombak setiap memandang rajah itu. Tapi Lando bilang, itu bentuk pedang. Ian dan Rian lain lagi, kata mereka itu adalah keris.
          “Rajah Wira Buana,” ucap Meena kemudian. “Aku benar-benar tidak menyangka, Rian akan memberikan rajah itu beserta kekuatannya padamu. Aku bahkan tidak tahu, hal seperti itu bisa dilakukan.”
          Ian tersenyum. “Adikku memang penuh kejutan.”
          Ian mendekatkan keris pusakanya ke dada, lalu memejamkan mata. Tak lama, benda itu berpendar dalam sinar merah. Sinar merah yang sama terpancar dari Rajah Wira Buana. Ketika sinar itu hilang, kerispun sudah tidak ada lagi.
          “Kenapa kau tidak ikut Lando mengantar Rian pulang?” tiba-tiba Meena bertanya.
          “Tidak perlu.”
          “Tapi sayang sekali, ya… Padahal kalian baru saja bertemu…”
          “Aku sudah memutuskan,” Ian memotong kalimat Meena. “Lima tahun lalu, aku memilih untuk tinggal di sini. Bahkan menggunakan kekuatanku untuk menghapus ‘keberadaanku’ dari dunia itu. Termasuk dari ingatan orang-orang.”
          “Karena kau tidak ingin mereka sedih akibat rasa kehilangan. Iya, ‘kan?” cetus Meena.
          Ian hanya tersenyum.
          “Harusnya Rian bisa tetap mempertahankan ingatannya, karena dia memiliki Rajah Wira Buana,” kata Meena lagi. “Tapi sepertinya dia memilih untuk membiarkan ingatannya ditekan. Mungkin dia tidak ingin membuatmu merasa terbebani.”
          Ian tidak menanggapi.
          “Eh, sekarang ‘kan Rian tidak punya rajah lagi,” Meena kembali berkata. “Apa kali ini dia benar-benar akan melupakanmu?”
          Pertanyaan Meena membuat Ian teringat pembicaraannya dengan Rian, sebelum adiknya itu berangkat bersama Lando.

          “Ian, maaf, aku tidak bisa tinggal di sini,” kata Rian waktu itu. “Ada banyak hal yang harus kulakukan. Di dunia kita. Lagipula, aku tidak bisa meninggalkan Ayah dan Ibu.”
          “Aku tahu,” Ian pun berkata. “Sama seperti aku, yang tidak bisa pulang bersamamu, dan meninggalkan teman-teman di sini.”
          Ian dan Rian saling pandang.
          “Aku… kali ini tidak akan melupakanmu,” tiba-tiba Rian berkata, agak mengejutkan kakaknya. “Jaga dirimu.”

          “Ian!” suara Meena membuyarkan lamunan Ian. “Kok diam? Kira-kira Rian akan lupa atau tidak?”
          “Entahlah,” sambil berkata begitu, Ian tersenyum penuh makna.


                                       T A M A T


 
0comics
81followers

You might also like