Titik-titik hujan deras membasahi jalanan aspal. Seorang pria paruh baya masih setia mengayunkan kakinya mengayuh pedal becak yang ia kendarai. Mengumpulkan rupiah demi rupiah yang masih saja tidak mampu memenuhi apa yang ia butuhkan. Malam telah larut ketika ia sampai di rumah dengan keadaan basah kuyup. Ia pun disambut oleh istrinya yang selalu setia menunggunya. Diambilnya plastik kecil yang sejak tadi terselip di sakunya. Ia pun membuka bungkusan plastik yang berisi pendapatannya hari ini. Lebih banyak dari hari biasanya, namun kelebihan itu masih belum cukup untuk memenuhi biaya masuk si sulung ke STM. Ia pun mengutarakan suatu niatan pada istrinya, yaitu esok hari ia akan meminjam uang pada sahabatnya.

     Keesokan harinya, uang pinjaman dari sahabatnya sudah ia pegang. Ia pun tersenyum melihat lembar-lembar rupiah yang ia kumpulkan selama ini, ditambah dengan uang pinjaman yang didapatnya, semua sudah dirasa cukup untuk biaya masuk cicilan pertama si sulung bersekolah. Namun ia merasakan sesuatu pada tubuhnya, ada hawa dingin yang membuatnya menggigil sementara tubuhnya terasa panas. Demam. Itulah yang ia rasakan. Ia pun meminta tolong pada istrinya untuk mengambilkan beberapa buah jaket yang ada di lemari. Kemudian ia pun memakai jaket-jaket itu, sementara istrinya menyelimuti tubuhnya dengan beberapa kain samping yang ia miliki.

     “Pak, bapak teh muriangan ka dokter moal? Urang berobat heula (Pak, bapak tuh demam, mau ke dokter gak? Kita berobat dulu).” Kata sang istri pada suaminya. “moal Mah nyaah, ieu aya duit ge kan jang si eneng ka STM, Bapa mah pangmeulikeun obat weh di warung (Enggak Mah, sayang uangnya, ini ada uang juga kan buat si Neng ke STM, Bapa mah beliin obat warung aja)” jawabnya.

     Si sulung yang sedari tadi memperhatikan dari kamar, tak bisa menahan butir-butir air matanya melihat kejadian itu. Ia merasa terharu dengan pengorbanan ayah dan ibunya. Sang ayah rela bekerja keras untuk mengais lembar-lembar rupiah ditengah derasnya hujan,tak hanya sampai disitu, saat ini, meski sakit, ia tidak mau menggunakan uangnya untuk ke dokter. Semua itu demi biaya sekolah anak-anaknya, begitupun ibunya yang setia mendampingi suami serta tiada lelah membimbing dan mengarahkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

      Pengorbanan yang mereka lakukan ini hanyalah setetes dari lautan pengorbanan yang telah mereka lakukan sejak anak-anaknya menghuni rahim sang ibu.

     Dan aku bangga menyebut mereka sebagai Orang Tuaku, pahlawan-pahlawan sejati dalam hidupku.Terima kasih Mamah… terima kasih Bapak…

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”

QS. Al-Isra:23


 
 
0comics
4followers

You might also like