Kubuka jendela kamarku. Cerah sekali cuaca hari ini, pikirku dalam hati.  “Tapi... tidak secerah nasibku”  gumamku dengan suara seperti berbisik walaupun aku tahu tidak ada yang akan mendengar ucapanku walau aku berteriak sekalipun. Dirumahku tidak ada orang , kecuali aku tentunya.
 Aku tinggal dengan kakak laki-laki ku. Kami masih memiliki orang tua. Ayahku adalah orang yang selalu sibuk, bahkan untuk meluangkan waktu bersama anak anaknya pun hampir tidak pernah. Ibuku... entahlah. Yang aku ingat tentangnya, dia meninggalkan kami bertiga. Dia meninggalkan aku, kakak dan ayahku saat aku berumur 7 tahun. Tanpa alasan. Semenjak itu , Ayah selalu mengahbiskan waktunya untuk bekerja, dia nampak tidak memiliki waktu untuk kami. Satu satunya anggota keluarga yang  menganggapku ada mungkin hanya kakakku, namanya joe. Dia selalu menyayangiku dan menjagaku dengan baik.
Kupandang lagi  langit yang cerah itu dari jendela kamarku. Lalu secara refleks aku memandang jam dinding yang ada diatas jendela kamarku itu. Jam dinding putih polos dengan ukiran bunga di pinggirnya dan gambar melati di pusat jarum jarum jam tersebut. Sekilas aku merasa kembali ke masa lalu saat memandang jam dinding itu. Kembali kedalam kenangan manis yang sudah dikubur rapat oleh joe.
Saat itu umurku masih 6 tahun. Aku dan joe sedang bermain, berlari lari dalam rumah kami . lalu... “prang” suara pecah itu telah mengagetkanku  dan tentunya joe, dan seketika memecah keceriaan kami. Aku memecahkan jam dinding yang baru dibeli ibu tadi pagi. Aku memecahkannya . air mukaku langsung berubah menjadi pias. Aku takut ibu marah. joe hanya diam seribu bahasa. “aku akan dimarahi ibu habis habisan” batinku dalam hati. Kami berdua tahu, bahwa jam itu adalah jam yang sudah lama ibu idam idamkan. Selain harga yang mahal, corak yang unik itu akan membuat orang seketika tertarik saat memandangnya. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, membuat aku semakin panik tapi tidak bisa berbuat apa apa. Kami hanya diam ditempat. Benar saja dugaan ku, ibu yang baru masuk kedalam ruangan terlihat kaget sekali melihat jam kesayangannya telah pecah. “siapa yang memecahkannya?” tanya ibu dengan raut kesal. Aku hanya terdiam, takut dimarahi ibu. “aku bu...”  tiba tiba joe menghampiri ibu dan mengakui kelasalahan yang aku perbuat. Aku terdiam. Bukan! bukan joe, tapi aku bu! Ingin sekali aku mengatakan kata kata itu, tapi mulutku seakan terkunci rapat oleh ketakutanku. Ibu tersenyum sambil menepuk punggung joe seakan bangga terhadapnya. “bagus joe, kamu cukup jantan untuk mengakui kesalahanmu. Kali ini ibu maafkan. Lain kali, jangan berlarian di dalam rumah ya. tapi sebagai hukumannya, ibu akan memotong uang jajanmu selama sebulan. Kamu setuju?” , joe hanya mengangguk lemah. Tidak lama setelah ibu pergi keluar, aku menghampiri joe meminta maaf. Dia hanya tersenyum membuatku lebih lega. Joe bergumam halus “itulah gunanya punya kakak kan?” .
keesokan harinya ibu pulang dengan membawa jam dinding . yang satu berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas yang menurutku mungkin tulisan merk jam tersebut. Dan yang satu lagi berwarna putih dengan gambar melati di tengahnya. Ya.. melati. Aku sangat suka dengan bunga melati. Ibu bilang itu hadiah  untuk kami. Aku amat sangat menyukai jam tersebut. Membuatku mengingat joe dan ibu. Tapi semenjak ibu pergi meniggalkan kami.. joe terlihat sangat terpukul. Dia membuang segala hal yang membuatnya mengingat ibu. Ibu yang telah membawa kami kedalam dunia semu ini.. dan kemudian menghilang.
Seketika, aku sadar dan membuyarkan lamunan masa laluku itu. Bagaimanapun ibu idak akan kembali. Ibu telah pergi dari kami. Bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kulihat lagi jam putih bersih itu lagi dengan lekat. Jam 9. Pasti joe sudah pergi ke kampusnya. Berarti hanya ada aku, seorang diri dirumah. Ayah.. pasti dia sedang sibuk dikantornya. Ayah berangkat lebih pagi dari siapapun, bahkan sebelum kami bangun dia sudah pergi ke kantor. Dan dia pulang lebih larut daripada kami. Meskipun satu rumah dengannya, aku tidak pernah merasakan kehadirannya di rumah. Seharusnya hari ini aku sekolah.  Tapi entah mengapa perasaan malas menjalar dalam tubuhku, toh tidak ada yang akan melarangku jika hari ini aku bolos sekolah. lagipula aku masih punya waktu 1 tahun lebih buat mempersiapkan ujian. Aku kan masih kelas 2 SMA, pikirku. Entah mengapa hari ini aku merasa lelah. Lelah sekali. Aku hanya ingin merebahkan diriku di kasur ini seharian. Menenggelamkan kenangan buruk masalaluku dan pikiran “betapa malangnya diriku” dalam balutan selimut hangat dan mimpi .
“tes” serasa sesuatu keluar dari hidungku. Segera aku berlari kekamar mandi dan pergi melihat cermin sambil membasuh hidungku. Darah. Darah menetes keluar dari hidungku. Aku hanya tersenyum kecut melihat darah keluar dari hidungku. Tidak terkejut sama sekali, mengingat hal ini sudah sangat sering terjadi padaku. Mengingatkanku pada kejadian di hari itu. Saat musim hujan, di ponte` cafe.
Kejadian ini terjadi sekitar 3 bulan yang lalu. Hari itu adalah hari gerimis. Gerimis turun seakan tak mau berhenti. saat itu aku sedang bersama kevin. Sesaat sebelumnya kevin mengajakku makan di cafe ponte` . aku mengiyakan ajakannya.
Sejujurnya, aku menyukai kevin. dulu kevin menolongku saat aku jatuh disaat oranglain menertawakanku. Dia juga betah lama lama berada di dekatku walau saat itu aku memberi tampang super jutek padanya. Bukan itu saja, dia juga menjadi sahabat baiku saat aku sedih. Dia bahkan sering menjadi pelampiasan kekesalanku, tapi dia tidak pernah mengeluh walau aku bersikap jahat padanya.  Kurasa aku menyayangi kevin. entahlah apa dia merasakan hal yang sama. Tapi yang aku tahu, dia sangat berharga.
Di cafe ponte` kami menghabiskan banyak waktu untuk berbincang bincang.  Dia bertanya soal kabar joe, bagaimana keadaan micky (micky adalah kucing peliharaan joe), ayah, dan banyak lagi. Sejujurnya aku bingung melihat gelagat kevin yang mencurigakan hari itu. Tapi aku lebih memutuskan untuk diam saja seakan tidak merasa heran dengan gelagatnya. “well, aku pengen ngomong sesuatu penting sama kamu” ucap kevin.  aku hanya mengangguk sambil konsentrasi menyantap  secangkir vanilla latte panas yang super lezat ini. “aku... aku...” melihat gelagatnya yang menurutku sangat sangat aneh ini membuatku melihat kearahnya sambil menunggu kata kata terlontar dari mulutnya. “tes” . sesuatu menetes dari hidungku. Darah. Kevin terlihat panik dan bingung melihat darah keluar dari hidungku, sebelum akhirnya dia membawaku ke dokter terdekat. Dia membawaku kesebuah klinik.
 Aku tahu tempat ini. Ini adalah dokter langganan tante titi. Tante titi adalah adik ayah. Tante titi sangat sayang padaku dan joe. Dia sudah seperti ibu bagi kami. Tapi setelah dia menikah dengan suaminya yang sekarang, dia lebih memilih tinggal di london dengan suaminya. Terkadang aku merindukan pelukan tante titi.
Setelah diperiksa oleh dokter, aku dipersilahkan masuk ke ruang kerjanya, bukan ruang pemeriksaan, tapi lebih pribadi lagi dari ruang pemeriksaan. Saat aku berbincang dengan dokter, kevin menungguku dengan khawatir diluar. Ada firasat tidak enak menjalar di tubuhku. Aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku. Dokter terlihat sangat serius memandangku. Dari matanya aku sadar, ini bukan suatu hal yang baik. Setelah dia bertanya tanya tentang bagaimana kabarku belakangan ini, bagaimana pola hidupku 3 tahun terakhir ini. Jujur saja aku bingung. “bisa saya bertemu orangtua kamu?” ucap dokter itu dengan nada lirih.”ayah saya lagi dinas di luar dok sekitar 1 bulan” jawabku. “ibu kamu?”, aku hanya menggeleng lemas dengan pertanyaan ‘ibu kamu?’. Dok ter tersebut meminta maaf telah menyinggung ibuku, mungkin dia menyadari pertanyaannya telah menyinggung perasaan ku. “saya belum bisa memastikan. Maka dari itu saya perlu memeriksa kamu lebih lanjut. Untuk hasil pemeriksaan, silahkan datang seminggu lagi” . aku hanya mengangguk sambil bertanya tanya dalam hati “ada apa denganku”. Hari itupun aku keluar dari ruang kerja dokter menghampiri kevin. “kenapa ra?” tanyanya penuh rasa ingin tahu. “gapapa, dokter bilang aku Cuma kecapean” jawabku.  Aku tahu aku telah berbohong pada kevin. aku cuman gamau kevin khawatir. Lagi pula belum tentu juga aku sakit parah kan? Sugestiku dalam hati, walau sebenarnya aku takut hal buruk akan terjadi padaku.
Seminggu kemudian, aku pergi ke tempat dokter itu lagi seorang diri. Aku cukup deg-degan , takut menghadapi kenyataan. Dokter memulai pembicaraan ringannya denganku sebelum menuju pokok masalahnya. Sampai akhirnya, suaranya memberat dan dengan tatapan yang lebih tajam. Dia memvonisku terkena kanker otak. Aku kaget seketika seperti ada petir menyambar.  Dia mengatakan waktu ku sudah tidak banyak. Mungkin beberapa bulan lagi, terlalu terlambat untuk mengobati ucapnya. Sekarang aku punya jawaban atas mimisanku, sakit kepala ku yang tiada ujungnya. Yang aku sadari saat itu... “waktuku tidak banyak”
Air mata jatuh membasahi pipiku saat aku mengingat hal itu lagi. Yah, itu sudah 3 bulan yang lalu. Itu artinya.. waktuku sudah sangat sedikit. Sudah 3 bulan yang kuhabiskan dengan siasia. Sampai sekarang pun, mulutku terkunci rapat untuk memberitahukan hal ini pada orang lain, termasuk pada joe,kevin,ayah,tante titi, semuanya. Tanpa sadar aku terjatuh di kamar mandiku sendiri. Sakit pada kepalaku sangat luar biasa menyiksa. Sampai aku pun tidak kuasa menahan diriku tejatuh dan perlahan semuanya hilang.
Saat kubuka mataku... langit langit yang putih bersih, bau obat yang semerbak membuat sedikit mual, kasur kecil dan dingin, selang di hidungku. Ya, ini dirumah sakit pikirku. Dari pintu aku melihat seseorang datang. Joe. Dia tampak pucat. Joe melihat kearahku lekat lekat. Joe menangis dengan tangan yang memeluku seakan tidak mau kehilanganku. Pertamakalinya seumur hidupku aku lihat joe menangis . “joe..” ucapku memanggil nama joe dengan lemah. Panggilanku tidak dihiraukan, dia masih menangis.
 “joe... jangan menangis” ucapku sambil menyeka air matanya.
 Dia hanya tersenyum kearahku. Lalu terdengar suara keluar dari mulutnya “kenapa gak pernah bilang kalau lo sakit tiara? Lo tau, gue khawatir? Lo itu satu satunya yan gue punya. Lo itu .. adik gue satu satunya. Gue gamau kehilangan waktu  sedetikpun  sama lo”
Aku tersenyum mendengar kata katanya.  Sepertinya dia sudah tahu kalau waktuku tinggal sedikit. “maafin tiara ya joe.. tiara gak mau ngerepotin joe”
Joe hanya diam. Seketika kemudian kevin datang ke ruang rawat inap ku. “kevin..” ucapku kaget melihat kevin yang datang membawa sebucket bunga. Joe tersenyum dan pergi keluar ruangan membiarkan kami berduaan.
“tiara... aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu.”
Aku kaget mendengar ucapan kevin, ditambah lagi airmata jatuh di pelupuk matanya. “kevin..” ucapku dengan speechless. Dia hanya diam dan mencium keniingku lekat lekat. Momen terbaik yang pernah ada. Aku menyeka aiir matanya dan tersenyum padanya. Tidak lama kemudian joe datang dengan membawa 2 cup orange juice untuknya dan kevin.  mereka tampak berbincang dengan hangat.
Aku bahagia. Walau aku tahu waktuku memang sudah tidak banyak.. aku sadar bahwa aku dicintai. Aku memiliki joe yang selalu ada  disampingku. Dia bagai ksatria pelindungku. Aku sangat menyayangi joe, dia satu satunya kakakku. Kevin, dia lebih dari sekedar sahabat. Aku lega mengetahui kenyataan bahwa dia juga mencintaiku dengan tulus. Aku tahu itu, tersirat dengan jelas di matanya.  Aku sadar aku memiliki waktu waktu terbaiku ketika waktu ku semakin menipis. Ya kematian akan segera datang menjemputku. Tapi ada sedikit yang mengganjal di hatiku. Meski waktu memang sangat misterisus menjajaki kehidupanku. Seketika teringat kenangan kenanagn yang telah kulalui dengan orang lain. Yah...cepat lambat, aku hanya akan tinggal menjadi kenangan. Menjadi tulang belulang di lubang tanah yang dalam. Menjadi terlupakan atau tinggal abadi di hati mereka. Membayangkan apa yang terjadi  jika aku tidak sakit. Hidup bahagia kah? Kenapa dia mengambilku sebentar lagi ? pikirku. Tidak adil. Tapi seketika secercah cahaya serasa mendatangiku. “Tidak, tuhan tau yang terbaik untukku” batinku dalam hati...
Seketika aku merasa akan pergi jauh. Seketika aku merasa waktunya sudah dekat. Aku tersenyum.” Kak joe..” ucapku sambil menatapnya dengan tajam. Dia tampak heran karena ini pertama kalinya aku tidak memanggil namanya secara lngsung.”kak joe mau janji ga?” dia hanya memandangiku sambil mengangguk . “ kak joe harus janji sama tiara, jangan benci ayah, ibu. Jangan benci mereka. Kak joe harus baikan ya sama ayah “ , joe hanya terdiam untuk beberapa saat dan kembali memandangku, “iya, kak joe janji.” Ucapnya meninggalkan senyuman di wajahku.  kevin...” aku memanggil kevin dan tersenyum padanya “kevin.. aku sayang kamu”, kevin tersenyum dan memegang tanganku.
“kak joe... tiara ngantuk. Tiara  mau tidur”
Joe hanya bisa diam dan erat menggenggam tangan adik satusatunya ini.
“tapi  tiara takut, kalau tidur , tiara gak akan bisa bangun lagi” ucapku dengan mata yang semakin buram. Dari kejauhan dan dengan mataku yang buram, aku melihat sesosok laki laki datang dengan tergesagesa. Dia menghampiriku dan menangisiku. Tapi... terlambat. Karena aku sudah tak kuasa membuka mata lagi. Dia tampak tidak percaya dan menangis. Ayah menangis. Joe berusaha menenangkan ayah. Kevin pergi dari ruanganku dengan muka sendu yang tidak aku pernah lihat sebelumnya. Mungkin dia belum bisa terima, pacarnya yang baru saja lima menit yang lalu mengatakan sayang padanya kini pergi untuk selamanya. Sama seperti ibuku, aku malah meninggalkan joe dan ayah. Bedanya.. aku mengucapkan selamat tinggal.
Yang harus kusyukuri adalah... aku dicintai. Waktuku memang sedikit, dan sudah habis. Tapi mungkin cukup memberikan kenangan manis dalam diriku. Setidaknya aku telah diberi kesempatan berada di sekeliling mereka. Ya... mereka yang kucintai. Ibu, ayah, joe dan... kevin. satu hal yang ingin aku ucapkan “terimakasih tuhan”.
Terkadang kamu baru sadar seseorang itu sangat berharga ketika kehilangannya. Jadi, kalau tidak mau menyesal nanti, habiskan waktumu dengan orang yang kamu sayangi sebelum semuanya tinggal hanya kenangan. karena waktu itu suatu hal berharga, tidak tergantikan, dan misterius.
 
--------------------------
*btw ini bikinan temen saya Dania Alfis. saya suka banget sama cerita ini XD. terimakasih sudah membacaaaa kalo mau baca lewat  blog buka --> http://daniaalfis.blogspot.com/ :3


 
1comics
117followers

You might also like