Sepuluh tahun lalu, saat kami masih sama-sama merindukan angkasa, diam-diam tengah malam kami keluar rumah lewat jendela. Jangan sampai ketahuan ibu. Kami berlari menuju padang rumput di pinggir kampung. Tempat yang sangat luas dan luar biasa cantik. Cobalah baringkan dirimu di rerumputan dan menatap langit malam yang bertabur bintang, maka kau akan merasa bisa memegang bintang..        

*

      Aku menatap langit malam kota dari beranda kamarku di lantai lima. Hitam,berpedar lampu-lampu kota. Di mana para bintang bersembunyi? Hanya bulan separo yang merani menampakkan wajahnya padaku. Aku menghirup hangatnya secangkir cappucino sambil mengenang masa kecilku. Dulu, tengah malam seperti ini, kami sering diam-diam keluar rumah mencari ekor komet, bintang baru, atau sekedar menyampaikan pesan ke angkasa. Aku merindukan masa itu. Rasanya terlalu lama menghirup polusi kota sejak pindah tiga tahun lalu membuatku melupakan rinduku pada angkasa.

Kupandang layar handphoneku. Dari Ron. Pesannya baru saja kubaca. Isinya selalu sama, permintaan maaf basa-basi plus bonus proposal rujuk kembali. Dari dulu, berulang-ulang terjadi, ia mengecewakanku lagi. Membuatku muak. Tapi sekarang tidak akan lagi. Aku bukan pacar yang selalu sabar, bukan sahabat yang selalu baik, bukan anak yang selalu jujur. Aku hanyalah aku, seorang biasa. Ada sedikit penyesalan. Bukan karena aku harus berpisah dengannya, tapi karena pernah bertemu dengannya.

"Banyak bintang muncul dan hilang.." gumamku sambil menatap lagit suram itu. Kumatikan handphoneku dan mulai mengepak barang. Aku ingin menemukan kembali rinduku pada angkasa, menemukan langit berbintangku.. 

**

Dulu Ia pernah berkata, usia alam semesta kita kira-kira 20 milyar tahun. Sejak terbentuk, alam semesta terus bertambah dan meluas hingga tak terhingga. Banyak galaksi yang terbentuk, membawa cerita kehidupan di luar sana yang selalu menggelitik rasa penasaran kami ketika kanak-kanak. Lalu kami selalu mengirimkan pesan ke langit, berharap sang meteor mau berbaik hati menyampaikan pesan kami ke luar angkasa, menyampaikannya pada bintang, pada galaksi yang bagaikan pusaran air itu. Berharap gelombang elektromagnet yang kami kirim sampai pada teman-teman kami di luar angkasa..

*

Hari baru berganti senja saat aku sampai di bandara. Masih ada waktu delapan jam dalam bis sebelum mencapai kampungku. Aku bersiul di bangku belakang bis, menikmati jalan yang berbatu-batu, bersemangat. Ini pertama kalinya aku berpergian sendiri. Namun ibu selalu saja menganggapku anak kecil. Perlu dua jam perdebatan dan dua hari mogok makan agar aku diperbolehkan pergi. Ibu perlu tahu kalau aku sudah 18 tahun dan berhak menentukan keinginanku. Aku ingin kuliah di pulau ini, di Sumatera.

Ah, sudah lama sejak terakhir ke sini. Hutan itu masih sama, jalan berliku itu, kampung itu..tak ada yang berubah. Alia..Pon..Rian..apa kabarnya mereka? Terlintas dalam benakku, kejadian lima tahun yang lalu, kejadian yang mengubah semuanya, terlalu pahit dikenang..

*

"Naomi!?"

"Pon!?" aku tak percaya pada penglihatanku. Itu Pon, Si Kepala Plontos. Dulu waktu SMP rambutnya botak, tapi lihat sekarang! Ia sudah menjadi lelaki gagah dengan rambut gondrong diikat. Tapi senyumnya tak berubah. Ia sedang mengangkat keranjang sawit saat aku berjalan menuju padang rumput sore itu. Ia pun sama terkejutnya.

"Kapan pulang? Bagaimana sekolahmu?" tanyanya antusias. Ah, Pon memang tak berubah. Ia yang paling baik.

"Kemarin pagi. Aku ingin kuliah di sini." Kataku, nyengir. "Jadi kau benar-benar melanjutkan usaha perkebunan ayahmu?" tanyaku, takjub.

"Yah, tapi tetap harus mulai dari bawah." ia tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Mau ke padang rumput? Kebetulan Rian juga pulang seminggu yang lalu." katanya.

Mendengar namanya disebut menimbulkan sensasi aneh di perutku. Sudah tiga tahun kami tak bicara, padahal dulu kami berempat adalah sahabat baik sejak kecil. Aku pun berpamitan dan berlari menuju padang rumput di pinggir kampung. Ah, masih sama seperti dulu. Aku berguling-guling di rerumputan yang menguning. Bau rumput mengingatkanku akan kenangan masa kecil. Dulu kami berempat sering datang kemari mengitung bintang. Kupandangi langit sore yang sedang bersolek, pipinya kemerahan. Aku berbaring menunggu mentari tenggelam. Sepoi angin membuatku mengantuk. Pasti aku sudah akan tertidur sampai pagi kalau saja suara itu tak membangunkanku.

"Oi, kecil! Sampai kapan tidur di sini? Ini sudah malam! Bibimu berisik menyuruhku mencarimu!"

Uh! Aku kenal suara itu! Buru-buru aku bangun dan mendapati langit telah berubah hitam bertabur bintang. Seorang lelaki berambut cepak jongkok di sampingku, marah-marah tepat di telingaku.

"Rian.." gumamku, memandangnya takjub. Sama seperti Pon, ia juga telah berubah menjadi sesosok lelaki tampan. Apa semua anak laki-laki mengalami perubahan yang menakjubkan itu? Setelah lima tahun, akhirnya ia mau bicara padaku.

"Pulang!" perintahnya, sama pongahnya seperti dulu. Aku melipat tanganku menatap nebula* di langit.

"Nanti, bintangnya bagus." kataku cuek. Sebenarnya aku menutupi girangnya hatiku karena sikapnya yang berubah padaku. Apa dia sudah memaafkanku? Rian malah ikut menatap langit. Aku tahu dia benar-benar suka bintang. Di antara kami berempat, dulu dia yang paling berapi-api ingin menjadi astronot.

"Pulang." katanya sambil tiba-tiba bangkit dan menarik tanganku. Kami berjalan di jalan setapak melewati padang dandelion. Dari kejauhan lampu-lampu rumah di kampung terlihat seperti cahaya kunang-kunang. Aku mengikutinya berjalan sambil memperhatikan tanganku yang belum juga dilepasnya. Entah kenapa aku juga tak mau melepasnya.

"Kau kuliah juga? Kuliah apa?" aku memberanikan diri bertanya memecah keheningan malam.

"Pilot." katanya pendek. Matanya tetap ke depan, tak memandangku. Dulu semasa SMA, aku memang sempat mendengar dari bibi kalau Rian ingin masuk sekolah penerbangan di kota. Lalu menguap ke mana impiannya menjadi astronot?

"Pada akhirnya kau tidak bisa melampaui ionosfer*, melainkan hanya bisa terbang di troposfer*.." kataku.

"Impian dan kenyataan itu beda." katanya, lagi-lagi singkat.

"Oh ya?" gumamku. Ia tak menjawab. Lama kami diam sampai tiba di depan rumahku, maksudku rumah bibiku sekarang. Ketika aku dan orangtuaku pindah, ke Jakarta, rumah kakek ini ditempati bibi dan keluarganya. Rumahku dan Rian hanya berjarak sepelemparan batu. Artinya, kalau kau mengambil batu seukuran tutup botol dan melemparkannya kencang-kencang dari depan teras ke arah rumahnya, maka bisa dipastikan salah satu kaca rumahnya akan pecah. Dulu Rian dan Pon pernah bereksperimen hal serupa dan berhadiah jeweran ibu masing-masing.

"Rian!" aku memanggilnya dari balik rumpun bunga krisan di halaman. Rian yang sudah berjalan duluan tanpa pamit, menoleh. "Kau sudah tak marah lagi padaku?" tanyaku.

"Kenapa?" ia malah balik tanya. "Sampai jumpa." katanya sambil berlalu dan menghilang di balik pagar.

Aku terpaku. Katanya, 'sampai jumpa', bukan 'selamat tinggal'. Entah kenapa aku senang mendengarnya. Aku menatap bintang Orion yang bertengger di angkasa sambil bergumam, "Selamat malam, Alia.."

**

“ Ini adalah malam terang di mana sang rembulan bersiul di langit ungu dan bintang terlihat jelas. Kau tahu rasi bintang apa yang terlihat di sana? Kau tahu Antares? Itu salah satu bintang dari rasi Scorpio. Warnanya indah sekali, membara lebih merah daripada batu rubi..seperti dirimu..”  Ya, kau selalu bilang, Naomi adalah bintang Antares, Alia adalah Orion, dan Pon adalah Polaris..

"Tahu nggak bagaimana bintang lenyap?" tanya Alia padaku hari itu. Aku hanya menggeleng.

"Hidrogen dalam bintang akan terus diubah menjadi helium karena reaksi atom dan melepaskan panas yang sangat hebat. Semua bintang, suatu saat akan kehilangan hidrogennya. Energi atom akan keluar. Begitulah hidupnya berakhir.." Alia menjelaskan panjang lebar. Aku hanya manggut-manggut.

Satu lagi maniak bintang selain Rian. Alia, sahabat baikku, salah satu dari empat transistor pesan luar angkasa -sebutanku untuk kelompok kami- yang hampir tiap malam yang cerah selalu berkumpul di padang rumput di pinggir kampung. Kami selalu berkumpul di sana sepulang sekolah sejak SD sampai tahun pertama SMP. Tak pernah bolos, kecuali waktu Pon kena cacar dan Alia liburan ke luar kota. Kami selalu solid, hampir tak ada pertengkaran serius, yah..kecuali pertengkaran-pertengkaran kecilku dan Rian. Teman-teman SD selalu kagum dan iri dengan kekompakan kami. Itu masa-masa yang indah..

Tapi yang kurasa, sesuatu mulai berubah sejak kami masuk SMP, atau mungkin tepatnya sudah sejak lama, hanya saja aku terlalu naif untuk menyadarinya. Entahlah.. Beberapa bulan sebelum hari itu, aku baru menyadari tatapan Alia dan beberapa hari setelahnya aku baru tahu arti tatapannya. Ia selalu menatap Rian dengan lembut. Mungkinkah ia menyukai Rian? Cinta. Sesuatu yang baru bagiku saat itu.

Waktu itu sedang musim rasi scorpio di langit malam tahun kedua di SMP. Kami janjian setelah selesai makan malam akan berkumpul di padang. Tapi sampai pukul sembilan hanya aku dan Rian yang datang. Pon menginap di rumah ketua kelas, menyiapkan perlengkapan drama kelasnya. Sedangkan Alia kepergok ibunya dan dihukum belajar sampai malam. Aku yang jengkel tidur-tiduran sambil mencabuti rumput dengan gemas. Akhir-akhir ini kami mulai jarang berkumpul lengkap. Apa karena kesibukan baru di SMP? Kalau aku sih, sesibuk apa pun pasti menyempatkan diri untuk datang.

"Kenapa mukamu begitu? Jelek!" Rian mengejekku. Ia ikut berbaring di sampingku, menatap langit bertabur bintang. Aku mendengus,tapi tak bisa membalas kata-katanya. Entah kenapa aku mulai merasa canggung padanya. Aneh, padahal aku kenal dia sudah seumur hidupku.

"Lihat, itu bintang Antares dari rasi Scorpio di langit selatan. Indah sekali, membara lebih merah dari batu rubi. Seperti kamu." katanya sambil menunjuk ke langit. Aku terkesima dengan kata-katanya. Baru kali ini Rian berkata lembut padaku. Aku meliriknya, poninya yang menjuntai dililitnya dengan ilalang. Tiba-tiba aku merasa perutku diaduk. Aduh..kenapa pula mukaku memerah? Aku jadi salah tingkah.

"Eh? Tumben-tumben kau puitis." kataku sambil tertawa, menyembunyikan detak jantung yang tiba-tiba meningkat

"Bego! Dasar nggak peka!" dia mengacak-acak rambutku. Aku masih tidak mengerti maksudnya. Ia berdiri, mengulurkan tangannya. "Pulang,yuk! Nggak seru kalau nggak lengkap." katanya.

"Eh..? Aku masih mau disini.." kataku, kecewa. Kenapa cepat sekali? Ia memperlihatkan senyum jahilnya.

"Hm..kau masih mau berlama-lama sama aku ya?" ia menjulurkan lidahnya. Aku sontak bangkit dan menjitak kepalanya.

"Enak aja!" kataku, sedikit malu. Ia seakan-akan bisa membaca pikiranku. Kami pun pulang. Sepanjang jalan kami bersenandung kecil. Aku nggak tahu mau ngobrol apa. Rasanya jalan setapak menuju kampung bertambah panjang. Tiba-tiba sosok Alia berlari ke arah kami. Rambut hitam panjangnya menari-nari dihembus angin.

"Alia!" seruku. Ia berhenti, napasnya tersengal- sengal.

"Kenapa datang? Bukannya kau harusnya belajar?" tanya Rian. Alia terkejut, seperti ingin menangis.

"Aku..cuma ingin datang.." katanya. Aku meninju punggung Rian.

"Apaan sih, Rian? Tadi kau yang bilang nggak enak kalau nggak lengkap!" aku merangkul lengan Alia.

"Kalian sudah mau pulang? Ayo pulang bareng kalau gitu.." Alia tersenyum kecut. Aku mengangguk. Suasana sepanjang perjalanan nggak enak. Rian berjalan duluan di depan.

"Kau bertengkar dengan Rian?" bisikku pada Alia. Ia menggeleng.

"Nggak, aku hanya.." ia tak melanjutkan kata-katanya, melainkan terus menatap Rian dari belakang. Aku hanya diam memperhatikan, tak mampu berkomentar...

Esoknya aku mencari Pon ke kelasnya. Ia sekelas dengan Alia, aku dan Rian di kelas sebelah. Pon terlihat sibuk dengan peralatan panggung, tapi ia segera menghampiriku begitu kupanggil.

"Kau tahu ada apa antara Alia dan Rian akhir-akhir ini? Mereka aneh." tanyaku. Pon menghela napas.

"Naomi nggak tahu? Kau nggak menangkap sesuatu?" tanyanya balik. Aku menggeleng.

"Alia menyukai Rian. Sepertinya Alia sudah mengungkapkannya beberapa hari lalu." katanya. Aku terkejut. Kenapa Alia tak bercerita padaku? Kenapa Rian diam saja? Kenapa justru Pon yang tahu? Entah kenapa terasa ada duri yang menusukku. Sakit. Aku tak tahu artinya apa. Hari itu tepat seminggu sebelum peristiwa lima tahun yang lalu.

*

"Ayo pulang!" seru Rian padaku sepulang sekolah sore itu. Alia dan Pon semakin sibuk saja mempersiapkan pertunjukan drama kelasnya. Jadilah sore itu kami hanya pulang berdua. Jujur waktu itu aku tak tahu harus ngobrol apa. Aku masih syok atas kata-kata Pon. Aku sedih, sepertinya aku tak dipercaya sebagai tempat mereka bercerita. Tapi ada menyelip secuil rasa sakit yang tak dikenal di lipatan hatiku. Apa itu? Seperti perpaduan rasa marah dan..nyeri? Baik pada Alia dan Rian.

"Kenapa diam? Sakit gigi?" tanya Rian jahil. Aku diam saja."Hei..hei..kau beneran sakit?" ia meletakkan telapak tangannya di keningku. Cepat-cepat aku menepis tangannya. Rasanya jantungku tiba-tiba ingin melompat. Aku memalingkan muka.

"Benar kau ditembak Alia? Kalian pacaran?" tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur dari mulutku tanpa bisa kucegah. Rian terkejut.

"Bukan urusanmu.." katanya, sikapnya tiba-tiba berubah, dingin. Secuil rasa sakit itu muncul lagi.

"Kenapa..? Tak ada yang mau cerita padaku. Tidak Alia, juga kau." desisku. Rian menoleh, menatapku sekilas.

"Karena kau tak pernah mau tahu. Kau terlalu naif.." kata-katanya menusukku. Aku tak bisa berkata-kata. Apa benar aku seperti itu? Apa aku masih kekanak-kanakan sehingga tak mengerti masalah cinta? Apa aku tak peka dengan keadaan sahabat-sahabatku..? Rian berjalan pulang mendahului, meninggalkan aku sendiri.

*

Yang aku ingat, kala itu hujan di sore menjelang malam. Awan hitam menutupi langit malam. Tak satupun bintang bersedia keluar. Dari jendela kulihat sosok Alia dengan payung birunya baru saja keluar dari halaman rumah Rian. Samar-samar kulihat raut mukanya yang muram. Ada apa? Tanganku tergerak membuka pintu dan berlari ke arahnya.

"Alia..! Ada ap..!?" aku terkejut mendapatinya menangis, menatap tanah yang becek akibat hujan. Ia berganti menatapku.

"Jangan ambil Rian... Jangan ambil dia dariku.." ratapnya sambil meraih lenganku. Aku bingung.

"Alia, ada apa? Ayo masuk, kita kehujanan." kataku. Ia malah mengguncang-guncang bahuku sambil menggumamkan kata-kata itu berkali-kali. Ia menatapku.

Baru kali itu aku merasa benar-benar melihat ke kedalaman bola matanya, ke dasar hatinya. Ia menyunggingkan sedikit senyum terpaksa di sudut bibirnya lalu memelukku sambil menggumamkan sesuatu. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkanku. Aku masih terpaku, seperti tersihir sesuatu. Anehnya aku tak mengejarnya, tak membalas memeluknya, tak menanyakannya apa yang sebenarnya terjadi. Seperti ada perintah tersembunyi di alam bawah sadarku untuk membiarkannya. Aku hanya terdiam menatap siluetnya yang semakin menjauh. Suatu hal yang akan sangat kusesali setelahnya karena malam itu adalah terakhir kali aku melihatnya.

Tubuhku serasa tak berdaya saat mengetahui kabar itu keesokan harinya. Alia meninggal, tertabrak truk yang mengangkut karet di pinggir kampung. Apa waktu itu ia hendak ke padang rumput? Aku tak tahu. Yang kutahu, ada penyesalan tak terhingga yang menghantamku...

*

Sejak kejadian itu, semua berubah. Entah bagaimana ekspresiku saat pemakamannya. Aku sendiri tak ingat bagaimana aku bisa berjalan pulang ke rumah sesudahnya. Seperti tak ada tawa lagi dalam hidupku. Rian juga tak mau berbicara padaku. Entah kenapa ia menjauhiku, seperti marah padaku. Sampai kenaikan kelas, bahkan sampai kelulusan SMP, tak sekalipun ia menegurku. Tak ada lagi pertemuan malam di padang. Tak ada lagi acara melihat bintang. Hal itu membuatku terpuruk, benar-benar terpuruk. Hanya Pon yang sesekali menyapaku. Di matanya juga tersirat kesedihan yang mendalam. Kehilangan Alia telah memporak-porandakan kami. Sampai kemudian keluargaku pergi menetap ke Jakarta dan aku melajutkan SMA di sana. Kami bertiga memisahkan diri, mencari tujuan dan dunia masing-masing..

*

Pagi ini aku membawa seikat bunga krisan, mengunjungi Alia.

"Alia, apa kabarmu? Maafkan aku. ." kataku padanya. Ia hanya diam, bergeming dalam seonggok batu nisan. Aku menahan air mataku yang berlomba-lomba untuk tumpah. Sejujurnya baru kali ini aku berani mengunjunginya sejak kejadian empat tahun lalu. Selama ini aku selalu dihantui rasa bersalah. Kenapa tak menyusulnya malam itu? Kenapa membiarkannya menangis..? Semua itu tak bisa hilang dari benakku.

" Maafkan aku selama ini dan maaf atas keterlambatanku datang." kataku sambil meletakkan bunga krisan di atas makamnya. Ada seikat bunga aster yang mulai layu di sana.

"Rian juga datang kemarin." tiba-tiba Pon mengagetkanku. Di tangannya ada setangkai mawar.

"Kau..selalu kemari?" tanyaku. Sebenarnya selain aster yang mulai layu, ada banyak tangkai mawar kering di sana. Pon hanya tersenyum dan baru sekarang kusadari kalau selama ini sebenarnya Alia selalu ada di dalam hatinya.

Kau benar Rian, aku terlalu naif, gumamku. . .

**

Jika melihat bintang jatuh, ucapkan keinginanmu 3 kali, maka keinginanmu akan terkabul. Kalau satu keinginanmu bisa dikabulkan, kau mau minta apa. .?

*

"Ngomong2 katanya beberapa hari lagi akan ada meteor gemini..kau mau lihat?" tanya Pon.

Hari itu, sepulang dari ziarah di makam Alia, kami berjalan-jalan keliling kampung. Kami mengobrol tentang banyak hal. Tak kusangka ia masih ingat 'tragedi' saat kami kelas lima SD, kami ketahuan menulis sontekan ujian di lengan atas. Karena ketahuan,kami dihukum keliling kampung sambil memamerkan guratan pena di lengan itu. Rasanya aku sedikit terhibur. Pon memang sahabat yang paling baik dan aku sungguh kagum akan ketulusannya, termasuk dalam mencintai Alia.

Aku tersenyum getir,

"Padahal dulu kita berjanji akan melihat meteor itu bersama-sama kelak. Ternyata.." aku tak melanjutkan kalimatku. Pikiranku melayang-layang ke masa-masa bahagia kami dulu, masa bahagia kami berempat. Ujung mataku terasa panas. Aku begitu merindukan masa itu. Aku merindukan Alia, terlebih aku merindukan Rian yang dulu..

"Rian akan pergi lagi lusa. Kuliahnya akan dimulai minggu depan." kata Pon dengan sedikit penekanan, seakan mencari jawaban atas pernyataannya yang menggantung dariku. Jujur aku tertegun sejenak. Ini artinya tak lama lagi aku tak akan bertemu Rian dalam waktu yang lama. Ada perih di ujung hatiku. Selama ini sudah kurenungkan, aku sudah terlalu banyak membohongi diriku.

"Temui dia, Naomi. Aku tak mau kau bernasib sama denganku." lanjutnya, tetap dengan maksud implisit dalam setiap kalimatnya.

Aku hanya tertawa. Mulutku tertawa, namun mataku layu seperti hendak menumpahkan kesedihan. Antagonis memang.

"Temui dia kalau memang kau benar-benar mencintainya." kali ini Pon berkata lugas dan tegas. Sinar matanya tegas seperti polaris.

"Ah, cinta.. Itu tak pantas buatku, Pon..tidak setelah apa yang kulakukan pada Alia." kataku,hampa. Aku mulai menangis. Beban yang sedari dulu kupendam membuncah. Aku tahu,aku tau kalau aku mencintainya, bahkan sebenarnya sangat mencintai Rian sejak dulu. Namun darah remajaku dulu enggan mengakuinya, selalu menghindar dan pura-pura tak tahu akan perasaan yang ditekan begitu hebatnya di dasar hatiku. Aku begitu menyesal, kenaifanku membuat Alia tiada. Ada satu hal yang diriku sendiri mati-matian menyangkal, bahwa sebenarnya malam itu aku mengerti maksud perkataan Alia dan perasaan egoisku menahan kakiku untuk mengejarnya. Tidak..bahkan aku tidak pantas lagi merasakan cinta itu..

"Alia pasti memaafkanmu. Ia sangat menyayangimu. Sebenarnya ia mengharapkan kebahagiaanmu. Begitupun aku.." Pon menghapus air mataku lalu menatap bintang di langit. Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Aku yang naif ini dikelilingi orang-orang dengan kasih yang begitu besar. Apakah aku masih layak..?

"Pon..kau tahu dulu kita menyimbolkanmu sebagai bintang polaris? Selama setahun penuh polaris tak bergerak. Ia yang paling setia menemani teman-teman bintangnya. Terimakasih mau menjadi polaris bagiku, Pon.." kataku tulus. Ia tersenyum dan kurasa itu senyum paling indah yang pernah kulihat..

*

Tak ada cahaya artifisial, tak ada yg menghalangi pandangan, hanya ada aku, padang rumput dan bintang malam ini. Aku berbaring mendapati kubah raksasa bertahtahkan ribuan bintang. Di sini aku memutuskan hidupku. Besok ia pergi dan aku memutuskan untuk melupakannya. Aku menunggu bintang jatuh, berharap keinginanku akan terkabul. Meteor mulai berjatuhan dengan spektakuler, namun aku tak sanggup mengajukan permohonanku itu. Terlintas kenangan saat aku dan Rian masih SMP, duduk, hanya berdua di padang rumput. Tak terasa air mataku meleleh.

"Tuhan, maafkan aku..aku tak bisa melupakannya.." desahku.

"Memangnya kau minta apa pada bintang..?" ia,yang tadi terlintas di benakku, jongkok persis di sampingku. Aku luar biasa kaget.

"Rian..kau???"

"Aku tahu dari Pon, kau kemari." katanya. Aku hanya terdiam. Ia menatapku dengan tatapannya yang dulu, tatapan yang dapat membelah rembulan.

"Maafkan aku selama ini. Aku mengacuhkanmu karena aku merasa bersalah pada Alia. Hari itu aku katakan padanya bahwa aku mencintaimu, walaupun aku kesal karena kau tak pernah menyadarinya.. Kukira dengan begitu ia akan berhenti berharap. Tapi betapapun penyesalanku padanya, itu tak pernah bisa menghentikanku untuk memikirkanmu. Maaf kalau perasaanku mengganggumu. Tapi sebelum aku pergi aku ingin mengatakannya. Di malam ketika langit cerah dan di malam ketika langit berawan, juga di malam ketika bintang tak terlihat, boleh kan aku mengingatmu..?" tanyanya padaku dengan ekspresi yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Kutatap matanya, ada cinta yang besar di sana. Rasanya aku bermimpi. Apakah ini hanya mimpi? Kupeluk dia dan merasakan kalau ini nyata. Rasanya aku tak bisa meminta kebahagiaan yang lebih dari ini.

"Aku tak perlu meminta apa-apa pada bintang.. karena aku sudah mendapatkan dirimu.. orang yang paling kucintai." kataku lembut.

"Terimakasih." katanya lirih. Dapat kurasakan ia tersenyum di bawah lautan hujan meteor yang memenuhi langit.

***

 

notes:

*nebula : materi berbentuk awan gas di angkasa,objek galaksi, kadang terlihat saat langit cerah.

*ionosfer : lapisan terluar atmosfer bumi dengan angkasa luar.

*troposfer : lapisan pertama atmosfer bumi, lintasan pesawat terbang.


 
8comics
429followers

You might also like