Aku membuka mata. Layaknya aku membuka mata untuk pertama kali meski aku tak pernah mengingat proses kelahiranku sendiri, aku mengerjap. Bingung. Dimana ini?

                Putih dan sejuk. Pendapatku yang terlintas saat melihat langit polos.

                Putih. Bukankah itu warna yang menandakan kesucian, bersih murni, tanpa cela, malaikat..idealnya dengan malaikat? Tak ada yang mengatakan pernah melihat malaikat langsung sih, setidaknya belum ada yang pernah mengaku kepadaku. Dari gambar cerita dongenglah aku mengetahuinya. Kuanggap saja orang yang melukis ataupun mengilustrasikan itu berniat menyampaikan penglihatannya dahulu. Atau mungkin khayalan? Bisa jadi mereka belum pernah melihat tapi hanya melanjutkan apa yang mereka tahu tentang makhluk itu. Seperti ketika ibuku bercerita dongeng ‘putri malang bertemu pangeran’ padaku berdasarkan apa yang ia ingat dari masa kecilnya.

                Hey, ingatan apa ini?

                Aku yang terbangun polos bagai orang linglung kini merasa pusing. Sesuatu yang besar seakan dipaksa masuk melalui pori kulit kepalaku. Kepalaku bertambah fungsi menjadi black hole. Menghisap hal yang tak jelas apa itu, kepalaku juga ikut tertelan. Aku pegang kepalaku untuk menahan bentuknya tetap bulat. Sementara gambaran-gambaran lalu melintas di ubun-ubun.

                Kursi tua.. kain..pintu yang berderik… bayangan yang keluar dari pintu itu....

                “Claire, satu jari berarti amat genting. Dua jari kalau kau sudah kembali pintar..”, suara laki-laki yang halus berbisik di telinga kananku. Aku ingin menoleh. Tetapi tahulah, kepala pening selalu membuat orang lemah untuk apapun, semoga jangan untuk bernafas.

                Pandanganku monoton. Sepatu merah kecil, kaki anak-anak. Sosok itu mengintip dari balik pintu.

                “CLAIRE KAMI DATAAANG!!!”, teriaknya.

                “AKH!”

                Mendadak aku tersentak. Proses black hole yang seakan ada tadi, sekarang mendadak terhenti. Nafasku tercekat satu detik.

                Pemilik sepatu merah itu anak laki-laki manis berpipi merah. Dia memandangku cemas. “Claire???”

                “A, tidak ada apa-apa Rum..maaf kalau caraku terbangun mengejutkanmu.”

                Otakku mengingatkan nama anak itu. Rumoudan Oka.

                “Rum..? Siapa itu??”, anak itu menelengkan kepalanya.

                “Kamu Rum kan?”

                Dia terdiam sebentar lalu tertawa. “Namaku Eumidan Oka. Umur 3 tahun. Siapa nama Claire..EH KOK CLAIRE??? HEHEHEHE….”

                “…Claire, aku datang minta tolong seperti biasa.”Di belakang anak itu berdiri seorang pria umur dua puluhan yang lumayan tampan. Ia berjas dan tampak kusut. Mengesampingkan dugaan ia saudaranya,kupikir dia ayahnya. Alasan : guratan wajahnya cukup banyak, berkumis, lesu.

                “Kau ayahnya?”, aku pastikan.

                Orang itu mengernyit. “Tingkahmu aneh. Kenapa kau tanyakan itu lagi?”

                Kalimatnya mengandung makna ‘bodoh, sudah pasti kan?’

                “Ya aku ayahnya”. Tak diduga pria itu tersenyum. Tipis.

                “Oh…”

                “Ahh..aku harus bekerja nih. Tiap hari selalu begini. Capek tahu!”, erangnya sambil memutar-mutar bahu.

                Aku diam mendengarkan masalah orang tua muda yang membanting tulang.

                “..Terkadang aku sirik melihatmu yang duduk saja tetapi uang terus mengalir..”

                Aku adalah penyihir, pekerjaan : penyewaan jasa sihir, pemikiran itu mendadak terlintas,”I, itu…”

                “..Claire, aku tahu kau tak terbiasa tak dibayar. Tapi sebagai teman lama aku minta tolong jaga Eum ya!”. Dia mengelus kepala anaknya jadi acak-acakan. Ketika dia berbalik, dia membentuk V dengan jari tangan kanan.

                Teman lama? Kenapa aku tak ingat orang ini!?

                “HE,HEI! SIAPA NAMAMU???”

                Langkahnya terhenti  di batas karpet. Wajahnya ke arahku. Sesuatu yang sangat indah ditujukan ke arahku.. senyum dengan pipi yang memerah.

                Dia..

                “Haha bercandamu tega sekali! Aku Rumoudan Oka alias Rum!! Apa perlu kuberi tahu nama kita bersekolah dulu hah??”

                Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Aku bukannya salah. Tapi sepertinya ingatanku adalah versi beberapa tahun yang lalu.