*La Nina. Fenomena alamiah tentang manusia.

                *La Nina : penyimpangan musim saat musim kemarau, dimana upwheeling terpusat di samudra Pasifik dekat Indonesia, dan arus laut panas bergerak terpusat pada samudra pasifik. Sehingga Indonesia mengalami musim hujan berkepanjangan.

Anak perempuan itu duduk di emper halte. Sendirian. Celingukan. Sesekali ada bus Jakarta-Cikampek yang lewat, dia berdiri, sedetik kemudian duduk lagi. Melamun lagi. Seolah menunggu kerasukan setan.

            Sudah sekitar dua jam aku disini, mengamati anak perempuan itu. Cantik. Usianya sekitar 10-12 tahun. Rambutnya apik, jatuh luwes di bahunya, kemerahan. Hidungnya mancung, matanya bulat bak bintang-bintang sinetron cilik yang sering kuliat di TV waktu masih di kampong. Pipinya gembil kemerahan, wajahnya putih molek bak boneka, murni tanpa riasan.

            Nyaris tanpa cacat, batinku.

            Sekali lagi aku melirik jam tanganku. Sudah jam dua, kenapa Ratih belum dating? Dia memang pernah cerita soal kemacetan di Jakarta, tapi apa sampai dua jam? Apa pula itu polisi? Apa kerjanya Cuma jadi polisi tidur saja?

            Aku menghela nafas, mengerjapkan mata, kembali memandangi gadis itu. Masih belum bergeming. Menatap kosong ke dalam bus-bus Jakarta-Bogor yang masih penuh-penuhnya. Aku digeluti rasa penasaran. Pelan-pelan aku mulai bangkit menghampirinya.

            Ia sempat tersontak kaget ketika aku sudah duduk disebelahnya tiba-tiba. Aku tersenyum ramah, menyapanya lembut. Menahannya yang bersiap bangkit dari tempat duduknya,menjauhi aku. “Saya bukan orang jahil kok, Dik!” tahanku.

            Ia diam. Matanya menyipit. Tangannya yang kurus masih diatas pegangan kursi emperan, masih bersiap utuk pergi. Matanya bergerak-gerak gelisah.

            “Gak usah takut Dik. Saya Cuma pengen kenal sama kamu. Lihat nih, saya gak bawa apa-apa.” Aku menunjukkan dua tanganku yang kosong, lalu merogoh kedua saku celanaku dan mengeluarkannya, memang kosong. Meyakinkan anak gadis itu kalao aku bukan penculik atau sebangsanya.

            Ia kembali mengamatiku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Alisnya mengernyit, ragu. Pelan-pelan ia melepaskan tangannya dari pegangan kursi emperan. Masih duduk dalam posisi tegak. Aku tersenyum. “Nama Adik siapa?” kusisipkan nada riang kekanakan dalam suaraku.

            “Nina.” Ia ragu-ragu menjawab.

            “Nina? Cantik ya namanya, kayak orangnya.” Ia menunduk, pipinya bersemu merah. “Nina kelas berapa sayang?”

            Ia kembali menatapku, seakan menunggu aku gugup dan pergi menjauh. Tapi itu tak terjadi. Aku masih duduk tegak di depannya, diseliuti rasa penasaran. Akhirnya ia menyerah. “Harusnya Nina kelas enam. Sekarang Nina udah gak sekolah, Om.”

            “Hah?” aku kaget. Kusimpan dalam-dalam nada kaget berlebihan dalam suara baritonku. “Kenapa? Mama sama Papamu . . .”

            “Mama sama Papa udah gak ada.” Potongnya cepat. Nada polos dalam ucapannya sempat membuatku kaget.

            “Maaf . . .”

            “Gak papa kok, toh mereka udah punya hotel di sorga, kata Oom Heri,” jawabannya yang polos membuatku mengurungkan niat untuk tertawa mendengarnya.

            “Kamu nunggu siapa disini sendirian?” rasa ingin tahuku bertambah, menggelitik otakku. 4 tahun aku kuliah, dan sekarang aku sedang menempuh S2ku di Psikologi, jarang sekali ketemu anak-anak macam Nina ini. Anak-anak yang selalu sukses membuatku penasaran.

            Ia kembali melempar pandangannya ke peron sebelah waktu suara bus baru menderung. Seakan sudah tahu itu bukan bus yang dia tunggu, ia kembali duduk dan membenarkan syal merahnya. “Nunggu Oom Heri.” Ia memandangi air hujan yang turun sedari tadi.

            “Oom Heri? Oom kamu?”

            Ia menggeleng. “Dia temen Papah di kantor. Sekarang Nina Cuma punya Oom Heri habis Papah ama Mamah gak ada . . .” ia mengelus lembut perutnya yang kecil. “Sama dedek bayiku.”

            “Hah?” nyaris aku tersedak mendengar jawabannya. Ingin aku tak percaya pendengaranku barusan.

            “Iya! Dedek bayi!” matanya berbinar menatapku yang melongo. “Masa Oom gak tau si? Itu lho, dedek bayi kecil, tapi masih di perut Nina, masih bobo.” Ada secuil nada mengejek di suaranya, seolah dia bicara sama orang paling bego sedunia, yang tak tahu apa itu “dedek bayi”.

            Aku benar-benar dibuatnya kaku. Beberapa kasus perkosaan di bawah umur memang sering aku dengar, tapi apa anak-anak korban perkosaan itu bias membanggakan ‘dedek bayi’nya tanpa ragu, di depan orang asing, persis seperti Nina ini? Dan lebih heran lagi, siapa pula ayah bayinya itu? Aku terus digerayapi pertanyaan-pertanyaan di otakku. “Eh Nina, kamu tau gak? Kalo kamu punya dedek bayi di perut kamu, kamu bakal jadi siapanya?”

            “Jadi Mamah!” jawabnya tegas, riang. “Nanti Nina yang bikini susu, biar dedek gak nangis. Nina udah bisa kok Oom!” kayaknya anak ini belum tahu apa arti ‘Mamah’ sebenarnya.

            “Siapa yang jadi papahnya, sayang?”

            Ia memutar bola matanya. “Oom Heri.” Jawabnya enteng. “Oom Heri  juga ikut ‘bikin’ kok. Bukan Cuma Nina, jadi dedek ini punya bareng-bareng.”

            Aku tambah melongo. Sering kubaca novel-novel cerita psikologis true story dengan kasus serupa Nina diluar sana, tapi belum ada korban sepolos Nina. Aku sempat ragu, mungkin dia piker ‘bikin bayi’ itu sama kayak dia bikin boneka dari kain.

            Hujan semakin deras. Orang-orang mulai bosan mondar-mandir. Mereka duduk-duduk di depan warung makan. Cuma sedikit orang-orang yang tersisa di halte, termasuk aku dan Nina. Mata gadis itu menerawang, mnembus lebatnnya tumpahan air hujan. Sesekali ia menggosok-gosokkan telapak tangannya.

*bersambung*

9komik
64pengikut

Other Stories