http://www.ngomik.com/artwork/war-is-begin/8602

 

Menjadi seorang komikus adalah cita – cita kakak sejak kecil…

Tapi seberapa berusahanya dia…

Selamanya cita-citanya hanya akan menjadi angan – angan

 

“Kakak… “ ucap seorang anak berumur 7 tahun memasuki ruangan yang remang.

 

Karena…

 

“… Ini kubawakan minum” lanjut anak itu dengan minuman yang dibawanya, ia menatap kearah pria yang tengah mengerjakan komiknya, ditemani lampu belajar.

 

Ini adalah… Hari terakhir kakak membuat komik

 

Air mata pria itu mulai membasahi pipinya, dengan ekspresi yang penuh dengan penyesalan. Anak yang membawa minuman untuknya, terdiam dengan raut wajah sedih.

 

Aku tau… Ini adalah hal yang paling berat buat kakak….

 

Anak itu sama sekali tak melepaskan pandangan matanya kearah pria itu “kakak” ucapnya pelan.

 

Namun, aku hanya bisa terdiam… Memandang kasihan pada kakakku itu…

 

Anak itu mengepalkan tangannya…

 

Tapi, sejak saat itu aku bertekad…

- -

 

AKU AKAN BUAT KOMIK!” teriak Ihsan ditengah tidurnya, yang memecah keheningan suasana perpustakaan.

*BRUK* Setelah berteriak, ia pun kembali tertidur dimeja.

Seorang perempuan yang dari tadi disebelah Ihsan mengumpulkan kemarahannya dengan membawa buku yang sudah digulungnya dan menepuk – nepuknya ketangannya yang lain, bersiap melampiaskan kemarahannya.

 

“Si bodoh ini… KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!!” bentak perempuan itu sambil melayangkan gulungan buku kearah Ihsan.

 

*Plak* “Akh!!!” Ihsan mengerang kesakitan, terkena gulungan buku. Namun berkat itu, Ihsan membuat sukses terbangun dari mimpinya dengan perasaan penuh kekesalan.

 

KAMU KENAPA SIH? SAKIT TAU!” bentak Ihsan yang tak dapat menahan rasa kesalnya.

 

“ Dilarang tidur dan berisik diperpustakaan…” sahut Sarah dengan senyuman tak berdosa, seolah merasa tak bersalah pernah memukul Ihsan.

 

CUIH! APA PEDULIKU!” Ujar Ihsan sambil memalingkan wajahnya, seolah meremehkan larangan yang diucapkan Sarah.

 

“Lagipula sudah kubilang berhenti ikuti aku! Aku kan udah bilang aku nggak mau!” lanjutnya.

 

“Dasar, pria yang tak bertanggung jawab!” balas Sarah ketus. “BERHENTI BERKATA SEOLAH AKU ITU ADALAH TERSANGKA!” bentak Ihsan, tak terima dengan balasan Sarah.

 

*cling* *cling* “… Kalau aku tak bisa membuktikan pada orang tuaku kalau aku bisa membuat komik, maka selamanya aku tak boleh bikin komik lagi… jadi aku mohon padamu” jelas sarah dengan sikap sopan dan mata berkaca – kaca dikarenakan menahan air mata.

 

“apa – apaan itu? berubah karakter?” ucap Ihsan dalam hati, menahan rasa heran dan bingung.

 

*cling* *cling* “Ajari aku menggambar ya? gambarku kan jelek…” mohon sarah, masih dengan mata berkaca – kaca.

 

*merinding* “berhenti memandangku dengan pandangan seperti itu! SEKALI NGGAK MAU, TETAP NGGAK MAU!!” jelas Ihsan dengan perasaan bercampur aduk.

 

“Dengar ya… aku membuat komik, bukan karena aku “suka” melainkan aku ingin melanjutkan perjuangan kakakku yang ingin jadi komikus… jadi aku…” lanjut Ihsan sedikit gugup.

 

KAMU…” ucap Sarah dengan nada agak tinggi.

 

*bersiap – siap menerima pukulan* “apa? Marah ya?” ucap Ihsan.

 

“memang ga pandai berbohong ya?” lanjut Sarah dengan senyum lebar yang lepas.

 

“… begitu? Nggak dipukul lagi nih?” ucap Ihsan, menahan rasa heran dan bingung.

 

*GLUDAK* BRAK* “IHSAN!!!” tiba – tiba muncul keributan yang memecah keheningan sesaat.

 

Ihsan dan Sarah yang mendengar hal itu sedikit kaget dengan kebisingan terjadi.

 

“apaan sih?” ucap Ihsan sedikit santai.

 

Seorang pria berparas tampan dan berpostur tinggi muncul dihadapan Ihsan “KETEMU JUGA KAU!! CEPAT BERSIAP DIPOSISIMU DAN KITA BERTANDING!! AKU KALI INI PASTI MENANG!” seru Ridwan dengan penuh percaya dirinya.

 

……. “OGAH BAGET! Kenapa juga harus aku…” sahut Ihsan tanpa basa basi.

 

“Cepet amat jawabnya…” gumam Ridwan bingung.

KAU TAKUT, YA? PENGECUT!” lanjut Ridwan, nggak terima dengan penolakan Ihsan.

 

SIAPA YANG KAMU MAKSUD ITU!” bantah Ihsan, membela diri.

 

Tiba – tiba aura membunuh pun menyeruak tajam yang membuat Ridwan dan Ihsan dalam posisi siaga…

 

*GLEG* “KALIAN… DILARANG BERISIK DIPERPUSTAKAAN!” bentak Sarah dalam posisi marah yang maksimal.

 

*PLAK* *BRAK* *BRAK* *DST* “HIY~”teriak Ihsan dan Ridwan merinding.

 

- -

Suasana tenang pun kembali diperpustakaan…

 

“Nah, beginikan lebih tenang… kalian memang anak baik…” ucap Sarah dengan wajah tak berdosa, padahal Ihsan dan Ridwan sudah habis kena hajar dirinya.

 

“Jahatnya~” gumam Ridwan.

 

“Aku kan pemeran utamanya~” keluh Ihsan.

 

“Oh, iya ngomong – ngomong… ” ucap Sarah saat terlintas pikiran yang ada dikepalanya.

 

“Hah? Nggak dipukul lagi kan?” tanya ridwan dengan takut – takut.

 

“Kamu bilang, kamu bertanding dengan ihsan dan kalah… bolehkah aku lihat gambarmu itu?” lanjut Sarah dengan sebuah permintaan.

 

“Tentu, dengan senang hati… Kalau liat ini kamu pasti akui kehebatanku. Ihsan itu nggak ada apa – apanya” ucap Ridwan sombong.

 

“PD amat” gumam Sarah. Ridwan pun mengeluarkan kertas yang ada disakunya dan kemudian menunjukkannya pada Sarah.

 

“Lihat nih! Gimana? Imutkan? Masa’ aku kalah ama ihsan… ” tanya Ridwan.

 

“Gambar apaan itu? Mananya yang imut?” Ucap Sarah dalam hati yang entah apa yang ingin dia utarakan pada Ridwan saat melihat gambar horror Ridwan yang dikatakan Ridwan imut.

 

Sarah menghela nafas dan kemudian mengucapkan “Ah, ternyata memang tidak bisa ya…”

 

“eh? Memangnya ada apa kenapa tiba – tiba ingin melihat gambarku?” tanya Ridwan, sedikit simpatik dengan perasaan Sarah.

 

“Orang tuaku menolak diriku menjadi komikus… mereka lebih setuju bila aku menjadi dokter atau semacamnya… Jika aku tidak membuktikannya sampai pemilihan kelas, maka aku harus melupakan impianku menjadi komikus untuk selamanya dan aku harus jadi dokter atau semacamnya….” ucap Sarah sedih.

“Ihsan terus – terusan menolak untuk mengajariku… kupikir kamu dapat membantuku karena kamu bilang kamu pernah bertanding dengan Ihsan… tapi rupanya sepertinya aku memang harus melupakan impianku jadi seorang komikus” lanjut Sarah putus asa.

 

“… Kalau Ihsan tidak mau… aku bisa membantumu… ya… maaf sih karena aku lebih suka genre horror, yang kebanyak orang tidak menyukainya… tapi lumayan kan buat belajar ?” ucap Ridwan menghibur Sarah.

 

“Terimakasih… tapi…aku…” ucap Sarah dan memalingkan untuk melihat Ihsan.

 

Betapa paniknya Sarah ketika melihat Ihsan sudah tidak ada diruangan itu.

 

“Tampaknya dia sudah pergi… saat kita ngobrol tadi…” jelas Ridwan.

 

Kemarahan Sarah pun memuncak “DIA… AWAS SAJA KALAU KETEMU!”

 

- -

 

Di gerbang sekolah…

 

“Hah… hah… ada apa dengan 2 orang itu…” ucap Ihsan terbata – bata karena lelah sehabis melarikan diri.

 

“Lagi pula, keinginan mereka tak ada hubungannya denganku… aku akan membuat komik demi kakak…” serunya, sambil berlari kearah rumahnya.

 

“Kakak, kakak ingin jadi komikus kan? Kakak tidak perlu membuang impian kakak itu!” ucap seorang anak kecil menahan air matanya.


“…maaf… kakak tidak bisa mengabulkan pemintaanmu itu…” ucap kakak.


“Kenapa?Aku juga mau membantu kakak, karena itu…” sahut anak itu mulai menangis.


“Kakak senang kamu berkata demikian, tapi… tetap saja kakak tidak bisa mengabulkan permintaanmu... Ada kalanya kita mengorbankan sesuatu yang kita sukai demi orang berharga bagi kita… aku bekerja siang dan malam… untuk kamu dan ibu, orang yang berharga bagiku… aku tidak bisa mengandalkan pendapatan dari komik yang bahkan belum pernah tembus di lomba apapun” ucap kakak sambil tersenyum.


“tapi…” sangkal anak kecil itu. “Tidak apa… walau tidak meraih apa yang kakak kakak impikan, bukan berarti kakak tidak bahagia.


Jangan sia – siakan apa yang kakak lakukan ini… Kejarlah mimpimu… Ihsan” nasehat kakak.

 

Ihsan pun tebangun dari hayalan masa lalunya… dan menghapus semua air mata yang ada dipipinya…

 

“Tidak mungkin aku mengejar mimpiku, sementara kakak menderita mengorbankan mimpinya demi aku…” ucapnya dalam hati sambil menahan air mata.

 

- -

 

Pagi harinya di sekolah…

 

“huh… gara – gara mengingat hal nggak penting, jadi nggak bisa tidur dan akhirnya kepagian deh… ” keluh Ihsan.

 

Langkahnya tehenti di perpustakaan. Disana terlihat Sarah sedang menggambar… dengan tangan yang terlihat lecet dibeberapa tempat.

 

“Dia… apakah dia semalaman latihan menggambar terus?” ucap Ihsan dari dalam hati.

 

Seorang pria muncul dibelakang Ihsan dan berkata “kenapa? Kamu khawatir?”

 

“Eh kau?” ucap Ihsan kaget saat melihat Ridwan yang ada dibelakangnya dan Ridwan tersenyum seolah menunggu Ihsan mngungkapkan sesuatu.

 

“Tidak kok… siapa bilang… dia mau apa sama sekali ga ada urusannya sama aku!” tolak Ihsan.

 

“Dia berlatih dari kemarin sepulang sekolah dan tidak berhenti… Meski dia tidak bisa menggambar, dia itu hebat… terus menggambar, tidak peduli apakah itu bagus atau tidak… demi meraih apa yang dicita – citakannya” jelas Ridwan.

 

Ihsan yang mendengar itu hanya bisa terdiam dan menelan ludahnya.

 

“Dia tak seperti orang pecundang yang mengatakan ingin jadi komikus demi kakaknya… pecundang itu tidak akan pernah bisa menjadi seorang komikus... kenapa? Jika dia berhasil, itu sama artinya dengan tujuannya sudah lunas… dan setelah itu ia tak akan bisa menggambar komik lagi… Dengan kata lain pecundang itu sebenarnya “suka” membuat komik dan tidak mau mengakhirinya dengan berhasil menjadi komikus… iya kan Ihsan? Hanya orang sepertimu yang pantas menjadi sainganku” sindir Ridwan sambil tersenyum. “Dasar sok tau…” Ucap Ridwan menutupi senyumnya.

 

Kejarlah mimpimu… Ihsan

 

“Sekarang aku mengerti kakak… maaf… aku tidak bisa mewujudkan cita – citamu… tapi sebagai gantinya… aku akan jadi komikus dan aku tidak akan menyia – nyiakan pengorbanan kakak!!” Ujar Ihsan dalam hati.

 

“Ternyata ini yang kamu lakukan selama ini Sarah!” Sebuah suara memecah kesunyian suasana pagi hari.

 

“I… ibu… kenapa ada disini?” ucap Sarah kaget. “Pantas saja nilaimu menurun terus akhir – akhir ini… ternyata gara- gara ini!” ketus ibu Sarah yang kelihatan kesal melihat kelakuan anaknya itu.

 

“Itu karena aku ingin jadi komikus… jadi..” bela Sarah.

 

“Apa… kamu bilang? Dengan sampah seperti ini kamu ingin menjadi komikus? Kamu lebih cocok, menjadi dokter atau semacamnya... sampah seperti ini jangankan diterima bahkan ini tak pantas untuk dilihat” ucap ibu Sarah sambil membawa gambar Sarah dan merobeknya, lalu menarik tangan sarah untuk membawanya pergi dari tempat itu.

 

Sarah hanya bisa terdiam syok, melihat usahanya hanya menjadi keping – kepingan kecil. Ihsan datang dan memungut serpihan gambar yang berceceran.

 

“Itu tidak benar… tidak ada sampah yang dibuat dengan perasaan tulus, yang dibuat dengan “suka”” Ucap Ihsan.

 

Ibu Sarah, Sarah, dan Ridwan tersentak mendengarnya. “Memang jadi dokter dan lainnya memang bagus… tapi melakukan sesuatu tanpa ada alasan… sama saja dengan tidak ada artinya… alasan itu tidak bisa dipaksakan dan diciptakan oleh orang lain… alasan itu mucul dari dalam diri sendiri… tidak apa andai, memang tidak bisa… bukan berararti kita tidak bahagia…

 

Bisakah saya meminta tolong pada ibu? Berikan dia kesempatan… Aku yakin dia pasti bisa jadi komikus yang hebat… dan tidak akan membuat semua orang tidak bahagia…!!” lanjut ihsan dengan senyum.

 

Sarah pun menangis dan memohon pada ibunya “ Tolong beri aku kesempatan, aku pasti bisa melakukannya!” Ibu Sarah yang tersentuh mendengar itupun akhirnya memberikan kesempatan untuk Sarah.

 

- -

 

Di halaman belakang sekolah… “Terimakasih, Ihsan, Ridwan kalian telah banyak membantuku! Aku berhutang budi!” ucap Sarah.

 

“ Kamu bilang apa… kami tidak melakukan apa – apa… semuanya itu berkat usahamu sendiri…” sahut Ihsan dengan agak malu – malu.

 

“ ya, dia benar… walaupun semua ajaran jeniusku sudah jadi potongan kecil…” sahut Ridwan dengan sedikit kecewa.

 

Ihsan dan Sara mengerutkan dahinya, mendengar pengakuan PDnya si Ridwan.

 

“Tapi yang penting… Sarah, Ihsan! Bertandinglah denganku!!” tantang Ridwan.

 

“Ogah banget...” Tolak Ihsan dan Sarah.

 

“Kamu itu… Nggak ada waktu buat hal yang seperti itu…” Ucap Ihsan.

 

“Iya benar!” ucap Sarah mengiyakan.

 

Karena WAR IS BEGIN!!


TAMAT


 
 
3comics
84followers

You might also like